Kamis, 16 Juni 2011

Masih Bisakah Orang Benar Hidup di Negeri Ini?

Reformasi. Kata itu yang aku pahami, kala itu, ketika terjadi demonstrasi besar-besaran, penjarahan dan pembakaran, yang berujung pada penurunan Pak Harto. Dan kata itu pula yang didengung-dengungkan sebagai solusi atas kerusakan dari rezim kala itu.

Dengung, tinggallah dengungan. Tanpa banyak arti, tanpa banyak perubahan mendasar.
Perubahan yang kurasa hanya lebih bebas. Entah darimana artinya bahwa demokrasi adalah kebebasan. Tapi itu yang terjadi sekarang..
Bebas mencuri, bebas korupsi, bebas menindas. Mungkin pengakuan hak atas diri inilah yang tidak diimbangi dengan pengakuan atas diri manusia disampingnya. Pencurian atas kemanusiaan.
Kebebasan menuntut, tanpa mau dituntut. Kebebasan beragama, tanpa peduli toleransi. Kebebasan mengemukakan pendapat, tanpa budaya kritis dan diskusi. Dan sepertinya tidak ada yang berani untuk mengatur negeri ini..

Keberanian yang harusnya dipakai oleh penguasa negeri ini malah hilang entah kemana. Mungkin hilang digunakan untuk menutupi apa ketakutan mereka yang lain. Ketika sang pengatur negeri harus dipangkas dalam tindakan, maka solusi termudah adalah dengan mengganti bagian terjelek dalam sistem. Layaknya membuang bagian kue yang sudah berjamur. Generasi yang telah hilang kesadaran diganti dengan generasi yang baru, yang belum punya kemauan untuk hilang kesadarannya. Namun, hal itu lagi-lagi hanya wacana. Yang ada, ketika generasi baru akan memberikan kebenarannya untuk berbuat sesuatu maka mereka lah yang akan dipangkas. Mereka dibuang jauh-jauh dari sistem pengatur negeri. Seorang dari generasi baru itu sempat berujar bahwa negeri ini sudah kacau, tidak ada kebenaran yang dapat ditegakkan untuk mengatur negeri ini. Tidak dapat digeneralisir, namun inilah kenyataan bahwa negeri ini sudah sangat jauh dari kebenaran.
Jadi, masih bisakah orang benar hidup di negeri ini?

Rabu, 15 Juni 2011

Kembang Tidur Saat Terjaga

Sore itu, seorang anak kecil berusia tiga tahun tengah terbangun dari tidur siangnya. Mencarilah dia kepada ibunya dan berkata bahwa ia baru saja melihat dalam tidurnya, "Bu, aku melihat kalo aku dan ibu ada di suatu rumah besar sekali. Rumahnya putih, tinggi, dan banyak orang yang bernyanyi untuk kita. Nyanyiannya bagus sekali lho, Bu. Tapi tiba-tiba berhenti dan aku ada di kamar. Aku takut, Bu."
Dan sang ibu berkata, "Nak, itu tadi namanya mimpi. Janganlah takut dengan sebuah mimpi. Karena dengan mimpi juga lah kita semua ada di dunia."

Ketika kita bertanya dari mana datangnya mimpi, maka akan ada banyak jawaban. Entah mana yang benar, karena semuanya akan dapat diperdebatkan. Tapi satu hal yang kupercaya bahwa ketika mimpi itu datang maka aku percaya bahwa segala sesuatu yang baik yang datang kepadaku semuanya berasal dari yang kupercaya, karena aku selalu percaya akan 'yang terbaik'.

Bagiku, mimpi bukan hanya kembangnya tidur. Meskipun akan banyak cerita yang kita dapat saat si kembang itu hadir dalam tidur kita. Ada kala cerita sedih, cerita bahagia, bahkan cerita menakutkan. Banyak cerita namun hanya satu pesan yang harus tersampaikan. Pesan bahwa masih ada hal di luar kita yang menginginkan kita berbuat sesuatu, lebih dari yang kita lakukan sekarang. Mimpi itu juga menunjukan kita masih punya harapan.

Mimpi bukanlah penglihatan saat tidur. Saat tidur kita dapat melihat sesuatu, saat bangun dan tersadar pun kita juga dapat melihat. Mimpi juga merupakan keinginan kita. Kita masih punya kesadaran dalam menentukan kemana kita melangkah kemana. Menunjukan bahwa kita juga mempunya tujuan dimana kita akan mendaratkan jejak langkah kita di suatu akhir nanti. Tujuan dan harapan yang harus kita capai, meskipun rasa gagal dan sakit akan selalu datang. Kekuatan dan perjuangan terbaiklah yang harus kita lakukan, dengan tetap memelihara rasa bahwa kita ada dalam garis pencapaian itu, dan percayalah bahwa segala yang kau mimpikan akan datang padamu, suatu saat nanti..

Tanpa mimpi, kita akan mati..
Mati roh, jiwa, dan badan ini..

save your soul

for the lost soul
i will talk to you
about pain, love, and freedom
just for the one

when the darkness come to you
don't be afraid
just smile, my soul
cause you still there for them

if everything away from you
you still have a freedom
to make a decision
to walk with full of tears or die

in future you will know the consequences of your choice
regret not coming to you
if you choose the best now
just yourself can be save your soul

Minggu, 12 Juni 2011

Dewa Malam

Aku, sang dewa malam, pernah berkata padamu bahwa kau tak harus berdoa kepadaku. Meskipun kau tetesan dari darahku dan potongan dari dagingku, kau tak harus ada bersamaku. Karena aku tahu apa arti dari kemandirian dan apa arti dari kesendirian. Karena kemandirian bukanlah kesamaan dari penderitaan, bukanlah hal yang serupa dengan kemanjaan. Dan kesendirian bukanlah suatu keantisosialan.

Hai, kau sang sahabatku! Pernah kau, dalam pintamu, inginkan satu waktu dari beribu jamanku. Kau inginkan secuil waktu dalam suatu tempat. Aku, sang dewa malam, hanya dapat berucap kata sepakat. Meski aku tahu kau takkan hadir dalam janjimu. Laku dan ucap yang berbeda takkan buatku heran dalam benak. Aku telah tahu sebelum waktu itu datang.

Tetap hadir aku dalam waktumu, meski akhirnya kau ambil apa yang telah kau ucap. Kau ketuk pintu dalam perenunganku, aku keluar dari gua peraduanku, tetapi kau tak datang dalam katamu sendiri.

Hai, aku lah sang dewa malam. Takkan pernah hilang dalam waktuku. Sesal pun tak akan tembus relungku. Namun berhati-hatilah kau dalam laku dan ucapmu. Karena aku hanya seorang dewa malam, sang penguasa malam. Hanya malam..

Rabu, 08 Juni 2011

Jejak

Percikan air menerpa wajah
Menghentak diri dari alam mimpi
Sedikitpun tak sadar akan diri
Dimanakah jiwa ini?

Pekat malam tanpa cahaya
Diujung pandang pun tak tampak
Angin dan laut pun serasa tertawakan diri
Dan selubung takut diantaraku

Namun pandang kembali beradu
Jari dan suara temani diriku
Tahu aku arti aku, kau, dan bersama
Meski aku 'kan tetap melangkah sebagai pribadi

Dan jiwa ini pun kembali
Meski malam akan tetap gelap
Ku tahu ku tak seorang diri
Karna beribu bintang selalu ada bagiku, di atas sana
'tuk awasi jejakku..

-laboan bajo, 020611-

Senin, 02 Mei 2011

Pendidikan kah?

"Apa guna punya ilmu tinggi kalau hanya untuk mengibuli/membodohi.
Apa guna banyak baca buku kalau mulut kau bungkam melulu."
-Apa Guna (Wiji Tukul)-

Gambaran itukah yang masih melekat hingga sekarang? Bukankah sudah bertahun-tahun berlalu masa-masa dimana kita dibodohi oleh penjajah, oleh kungkungan budaya, bahkan oleh rezim? Dimanakah sebuah kata yang bernama "pendidikan"?


Hai, kawan!! Jaman itu mungkin sudah berlalu. Sekarang ini kami sudah banyak melihat pendidikan ada dimana-mana. Pendidikan dari TK, SD, SMP, SMA, bahkan perguruan tinggi sudah ada dimana-mana. Mengapa kau tanyakan keberadaannya?

Maaf, aku tak tahu kalau itu yang namanya pendidikan. Yang aku tahu semua yang kau sebutkan itu hanya bangunan dengan plang yang tertera di depan, yang mungkin semakin besar bangunan maka semakin besar pula nama yang terpampangnya. Bangunan yang di isi oleh banyak orang hilir mudik dengan seragam kebanggaannya. Bangunan yang di dalamnya ada sebuah proses dialog (terkadang monolog), buku, tulis, hitung, dan uang.
Aku tak tahu apakah jika sebuah bangunan (atau gubuk reyot) yang di dalamnya tidak ada buku, seragam, bangku, dan uang tetapi ada proses pembelajaran dan transfer ilmu bisa disebut dengan pendidikan?

Sok berat bahasamu. Aku tak tahu proses transfer ilmu macam apa yang kau inginkan. Yang ada sekarang adalah pendidikan, sudah itu kami lengkapkan semua di dalamnya. Kurikulum, fasilitas, sistem, keberlanjutan. Tak ragu kami akan hasil yang akan diperolehnya. Sistem ini sudah sangat teruji, sudah mengikuti perkembangan jaman, sudah sesuai dengan negara-negara maju yang canggih teknologinya. Pendidikan adalah sistem, ilmu dan tujuan.

Aku suka perkembangan. Aku tak menolak jaman. Tetapi lihatlah apakah jaman ini dirasakan oleh semua orang yang berhak merasakan. Lihatlah apakah yang kau sebut pendidikan itu telah berguna bagi masyarakat terkecil. Kau sendiri yang sebut sistem tetapi kau hanya ambil apa yang orang lain buat, bukan kau buat sendiri untuk bangsamu. Kalau kita ingin maju bolehlah kita lihat ke atas, tetapi jangan pernah kita lupa bahwa masih ada yang tenggelam di bawah kita. Tak bisa kita rengkuh langit dengan menginjak dalam-dalam kepala manusia di bawah kita hingga terbenam di dalam lumpur. Sistem macam apa yang bisa meninggalkan mereka yang di belakang dengan membiarkan mereka dengan keterbelakangan mereka. Pendidikan adalah pengertian, kesadaran, dan tindakan.


Mungkin bukan jaman lagi jaman kita ditindas oleh penjajah, oleh budaya atau oleh rezim; namun masih banyak musuh yang harus kita berantas. Tak sadar kita telah dijajah oleh yang namanya individualisme, egoisme, hedonisme, dan materialisme; mungkin pun dengan isme-isme lainnya. Akankah ini bisa dijawab hanya dengan sebuah hitam di atas putih, itupun kalau disertai dengan sebuah pelaksanaan?


Selamat memperingati Hari Pendidikan Nasional
-Pendidikan merupakan proses yang takkan berhenti, dan takkan dapat dihentikan-

Kamis, 21 April 2011

Si Anggrek dan Sang Pengampun

Setiap kali melihatmu, sebenarnya aku tak tahu harus berbuat apa. Aku hanya tahu kalau rasa sakit hati itu akan kembali muncul setiap melihatmu. Berulang kali muncul selalu aku coba untuk tak hiraukan dan kembali memadamkannya. Tapi selalu saja dia kembali..

Ada satu kali aku baca tentang sebuah rasa memaafkan bagi sesama kita. Saat kubaca pertama kali, aku teringat padamu dan itu menyadarkanku akan pentingnya sebuah pengampunan. Kesadaran akan pengampunan.
...

BUKAN UNTUK MARAH..

Ada seorang tuan menyukai bunga anggrek. Pada suatu hari ketika hendak pergi berkelana, dia berpesan kepada bawahannya, harus hati-hati merawat bunga anggreknya.

Selama kepergiannya, bawahannya dengan teliti memelihara bunga-bunga anggrek tersebut. Namun, pada suatu hari ketika sedang menyiram bunga anggrek tersebut, tanpa sengaja menyenggol rak-rak pohon tersebut sehingga semua pohon anggrek berjatuhan dan pot anggrek tersebut pecah berantakan dan pohon anggrek berserakan.

Para bawahannya yang sangat ketakutan, bermaksud menunggu tuannya pulang dan meminta maaf sambil menunggu hukuman yang akan mereka terima.

Setelah sang tuan pulang mendengar kabar itu, lalu memanggil para bawahannya, dia tidak marah kepada mereka, bahkan berkata, "Saya menanam bunga anggrek, alasan pertama adalah untuk dipersembahkan kepada org yg suka melihatnya, dan yang kedua adalah untuk memperindah lingkungan di daerah ini, bukan demi untuk marah saya menanam pohon anggrek ini."

Perkataan tuan ini sungguh benar, "Bukan demi untuk marah menanam pohon anggrek."

Dia bisa demikian toleran, krn walaupun menyukai bunga anggrek, ttp di hatinya tdk ada rasa keterikatan akan bunga anggrek. Oleh sebab itu ketika dia kehilangan bunga-bunga anggrek tsb, tidak menimbulkan kemarahan dlm hatinya.

Sedangkan kita dlm kehidupan kita, sering terlalu banyak kekhawatiran, terlalu peduli pada kehilangan & memperoleh, sehingga menyebabkan keadaan emosi kita tidak stabil. Kita merasa tdk bahagia.

Maka seandainya kita sedang marah, kita bisa berpikir sejenak,
"Bukan demi marah menjadi sahabat."
"Bukan demi marah menjadi suami istri."
"Bukan demi marah melahirkan dan mendidik anak."
Maka kita bisa mencairkan rasa marah & kesusahan yang ada dalam hati kita & berubah menjadi damai.

Sahabat....

Setelah membaca artikel ini, ketika hendak bertengkar dengan keluarga,istri/suami saudara,
sahabatmu,ingatlah perjumpaan kalian,bukan demi untuk rasa marah..

Aku sadar dan bisa untuk mengampuni apa yang orang lain lakukan untuk ku. Namun tak tahu aku mengapa sakit itu kerap kali muncul. Tak mudah untuk melupakan, aku tahu itu. Namun bukan hanya melupakan dan memaafkan, aku juga ingin menyelesaikannya.


"...dan ampunilah kesalahan kami seperti kamipun mengampuni orang yang bersalah kepada kami."
-satu hari menjelang peringatan akan Dia yang mengorbankan diri di atas salib sehingga pengampunan terbesar ada untuk ku dan dunia ini-