Tampilkan postingan dengan label peRenunganku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label peRenunganku. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 November 2010

Bubur Ayam, Adakah yang Salah dengan Kondisi Ini?

Flu macam malam ini sudah beberapa hari bersarang di dalam hidungku. Kalau sudah badan brasa ga enak begini, aku jadi kangen sama bubur di sudirman. Entah mengapa, kalau sudah makan disana, perasaan jadi lebih baekan ni sakit. Mungkin ini mirip sama sugesti kalo kita ke dokter. Hehehe..
Dua malam berturut-turut aku ke tempat bubur ayam itu tapi jodoh tak kunjung tiba. Hari pertama, aku telat dateng. Si penjualnya udah pulang (secara datengnya juga jam 10.edan!!). Hari kedua, pas banget nyampe sana langsung dibilang sama tukang jualnya "dah habis aak". Damn, ga tau apa aku lagi butuh sugesti biar sehat. Wkwk.. Akhirnya hari ini, sengaja, aku dateng jam 7 malem. Mau hujan menerpa, pokoknya malem ini harus makan bubur (ngidam critanya). And akhirnya, makan juga aku disana plus dibungkus satu plus jeruk murni 2 gelas. Lengkaplah sudah ngidam beberapa hari ini. Semoga sugesti ini bikin cepet baekan (kemaren2 marahan sama flu.haha..)

Kususuri jalan gelap belakang stasiun. Iseng, kubelokan motorku ke kanan. Kulalui jalan ABC di malam hari. Sekedar melihat jalan yang sudah lama tak kulalui (dulu sering banget makan ke c'mar.hehe..). Tapi jalan ini masih sepi dari 'pemandangan malam'nya. Entah karena masih hujan atau waktu yang masih kurang malam. Akhirnya kuputuskan pulang..

Bubur ayam ini sudah ada di depan mataku. Kusantap pelan-pelan sambil kunyalakan tv. Tepat di depan layar kacaku, kulihat sedang ada acara diskusi antara lembaga (entah, lupa aku) independen tenaga kerja dengan anggota dpr yang berbincang diantara keluarga dan penduduk di rumah salah satu tenaga kerja wanita yang belum lama ini dibunuh di arab sana. Terlihat mereka berdua berdebat diantara warga yang sedang sedih. Berdua mereka ngotot-ngototan mengenai peraturan tenaga kerja. Sementara mereka berdebat, terlihat penduduk yang ga tau apa-apa tentang peraturan hanya plonga-plongo. Tolong dulu.. Ada tempat dimana kita berdebat, bapak-bapak ibu-ibu.. Memang rakyat harus tahu apa yang dipersoalkan, tapi bukan dengan cara berdebat di waktu dan tempat yang tak tepat.

Teringat aku akan percakapan tadi sore dengan salah satu adek tingkatku mengenai sistem organisasi. Jarang aku datang ke himpunan yang dulu sering kusantroni, tapi saat tadi tiba-tiba hujan datang, aku berteduh, dan terjadilah percakapan itu. Aku teringat percakapan sore tadi mengenai sistem yang sedang terjadi di himpunan. Aku pikir sistem itu adalah yang terjadi sekarang. Mengenai ada rancangan sistem atau tidak, kujawab ada. Tetapi selama rancangan itu tidak dijalankan, tentunya hanya akan menjadi rancangan, tidak akan menjadi sebuah sistem. Dan ketika ada sebuah rancangan yang telah dirancang sebagus mungkin tetapi tidak dilaksanakan, dan sistem yang sedang berjalan sekarang ini kacau (tidak sesuai dengan apa yang seharusnya), maka tidak akan ada gunanya sistem tersebut dan otak-otak para pembikin rancangan itu. Dan ketika manusia-manusia yang berada di dalam sistem yang ada sekarang tidak menyadari bahwa ada yang salah (mungkin sekedar merasa ada yang salah tetapi tidak sadar akan kesalahan sistem), maka sistem itu akan tetap berjalan terus. Salahkah itu?

Diskusi di televisi ini mengingatkanku tentang sistem, rancangan sistem dan pelakunya. Salahkah ketika aku bilang tidak ada sistem yang jelas di negara ini? Atau hanya aku yang terkungkung dalam pikiranku sendiri hingga melihat segalanya kacau di negeri ini? Terkadang aku ingin bertanya kepada orang-orang di ujung sana, apakah kita punya rancangan sistem untuk kondisi ini lebih baik? Tidak masalahkah kita berada dalam kondisi kacau seperti ini?

Kalau sistem salah, kita perbaiki sistemnya. Kalau tidak ada rancangannya, kita rancang bersama. Kalau rancangannya belum terlaksana, kita laksanakan. Jangan kondisi ini yang kacau, lalu kita hanya menumbalkan 'korban' sistem yang ada. Kembali aku teringat pada tenaga kerja Indonesia (yang lagi hot diperdebatkan) dan 'pemandangan malam' tadi, haruskah kalian menjadi korban dari suatu kekacauan negeri ini?

Kepada siapa aku harus bertanya tentang semua ini?
Hanya ada waktu merenung bersama bubur ayam ini..
**Lanjut lagi makan buburnya.. (meskipun jadi berasa lebih berat) :)

Jumat, 04 Desember 2009

Tong Sampah Terbaik di Hidupku

Bulan Desember telah tiba. Suatu pertanda tahun ini juga akan berakhir, dan berganti dengan tahun yang baru. Kuingat beberapa tahun yang lalu, dimana masa remaja telah membentukku menjadi seperti sekarang ini. Masa-masa remaja, yang kata orang merupakan masa yang labil, telah kubuat menjadi kehidupan yang penuh prinsip.

Kembali kuingat bahwa pada masa itu aku tidak ingin pacaran. Menurutku pacaran pada masa remaja akan membuang masa remajaku. Masa remajaku harus diisi dengan banyak teman dan sahabat. Dengan pacaran, menurutku, aku akan merasa terbatas dalam bergaul dengan teman-temanku. Hal kedua yang kuingat adalah keinginanku menjadi 'tong sampah'. Tong sampah mempunyai fungsi sebagai tempat untuk membuang hal-hal yang sudah tidak berguna. Aku ingin menjadi 'tong sampah' bagi orang-orang disekitarku. Aku ingin orang-orang disekitarku membuang hal-hal yang 'sebenarnya' tidak mereka perlukan kepadaku. Aku ingin menjadi pendengar yang baik bagi mereka, yang selalu mendengar keluh kesah dan beban mereka dan mereka akan kembali lega setelah membuang apa yang mereka tidak perlukan dalam hidup mereka. Dalam hidup ini, banyak orang berbicara (dengan sangat baik sekali) tetapi sangat sedikit orang yang mendengar dengan baik. Menjadi pendengar yang baik bukanlah sesuatu yang mudah, karena orang selalu ingin didengar, bukan mendengar.

Dalam bulan-bulan yang lalu, setiap orang yang lalu lalang dalam hidupku membuat hatiku sedikit goyang. 'Tong sampah' yang kuimpikan dulu dalam hidupku kembali diuji. Apakah aku masih dapat berperan seperti itu? Menjadi seorang pendengar yang baik, dan yang membantu orang sekitarnya dalam menjalani apa yang terjadi sehingga menjadi kembali kuat dan segar? Beberapa kali aku selalu merasa sedih, karena si 'pembuang sampah' tidak akan memerlukan tong sampah jika sedang tidak punya hal yang kotor, yang mereka akan buang. Meskipun tidak mudah, tetapi aku yakin bahwa ada "Tong Sampah' terbaik yang berada di belakangku, yang selalu ada buat menampung tong sampah kecil ini apabila sudah penuh.

Kamis, 03 September 2009

Adaptasi Manusia kah?

Ada kalanya seseorang naik dan turun. Tak selamanya orang selalu naek, begitu juga sebaliknya. Banyak filsuf yang selalu berkata bahwa hidup seperti roda. Hidup selalu berputar. Kadang di atas, kadang di bawah. Kehidupan pun selalu berputar. Ada saatnya manusia baru menggantikan manusia yang lama, dan yang baru pun digantikan oleh yang lebih baru lagi, begitu seterusnya.

Sewaktu kecil, kita masuk Taman Kanak-kanak, setelah itu masuk ke sekolah dasar. Di sekolah dasar, kita menjadi murid baru, yang harus bisa menyesuaikan diri terhadap lingkungan SD kita, hingga akhirnya menjadi siswa kelas enam, siswa yang paling senior. Selepas SD, kita diharuskan masuk ke tingkat yang lebih tinggi lagi, SMP. Siswa senior SD itupun masuk ke lingkungan SMP, yang berbeda dengan lingkungan SD sehingga memaksa mereka untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan SMP. Begitupun ketika menginjak bangku SMA, Perguruan tinggi, dan lingkungan pekerjaan.

Di lingkungan keluarga pun selalu berputar, meskipun ada saatnya kita akan tutup usia. Dari kecil kita selalu dididik, hingga saat-saat dimana kita bisa mencari jati diri dan membentuk karakter kita. Hingga ada saatnya kita menjadi seseorang yang mengharuskan kita untuk menjadi seorang pendidik. tanggung jawab semakin besar, dan menjadi lebih kompleks karena tidak hanya menyangkut diri kita sendiri tetapi berhubungan dengan orang lain, baik itu orang terdekat maupun orang banyak di lingkungan dimana kita berada.

Penyesuaian diri. Satu padanan kata yang membuat kita diharuskan merasa menjadi makhluk sosial yang selalu hidup bersama orang lain. Penyesuaian diri, bukanlah tanpa karakter. Penyesuaian diri merupakan bentuk karakter kita. Dan semua manusia membutuhkan itu, atau mati.

Sabtu, 28 Juli 2007

Kasihkah?

Semalam ketika pulang ke kos. Terlihat di suatu simpang, seorang ibu dengan dua anak yang tampaknya akan pulang ke rumahnya. Disana juga ada ibu-ibu lain beserta anak-anak mereka. Si anak yang kecil terlihat menangis karena hendak ditinggal si ibu dan kakaknya. Entah mengapa. Mungkin saja dia tidak menurut perintah ibu. Atau. Mungkin saja uang yang didapatnya kurang. Karena biasanya, anak-anak tersebut sering terlihat ngamen di simpang tersebut. Dan si ibu duduk-duduk di pinggir jalan sambil ngobrol satu sama lain.Tentu, merek mengemis bukan karena mereka memilih untuk menjadi miskin. Saya lebih sering ngasih si anak-anak itu makanan yang sengaja saya beli untuk mereka. Karena buat saya, lebih baik ngasih makanan yang dapat langsung dinikmati oleh anak-anak itu daripada ngasih uang yang mungkin bakal dikasih ke ibu mereka sebagai upeti. Kok ada ya ibu yang tega nyuruh anak-anaknya buat bekerja (ngemis) sedangkan mereka sendiri duduk-duduk di pinggir jalan..Apa inikah kasih seorang ibu? Buatku, tentu tidak.



[a]:
Jadi inget banyak berkat Tuhan buat gw.
Ampuniku, Tuhan, kalau aku masih sering ngeluh ke Tuhan.
Biarkan tanganku jadi tangan Tuhan untuk mereka.

Sabtu, 14 Juli 2007

Kegagalan Malaikat Kematian-ku

Berita mengejutkan. Menurut temanku. Ternyata tak dapat mengejutkanku. Tentu, kabar tentang wanita. Makhluk yang rumit.

Satu kata yang (mungkin) tepat. Ditusuk dari belakang.

Mengapa aku harus tahu dari orang lain?

Mengapa selama ini dia baik kepadaku?

Mengapa harus sekarang aku tahunya?

Tetapi, semua itu tidak ng-efek ke aku. Suer. Aku tetap punya tekad yang bulat. Aku tidak akan berubah terhadapnya. Semoga.

Kalau (seandainya) dia mau membunuh aku. Sangat-sangat kurang kalau hanya dengan menusuk dari belakang. Aku sudah kebal. Mungkin perlu pedang pembunuh naga untuk menusuk tepat di jantungku. Dan mengeluarkannya dari tubuhku. Baru aku akan mati.

Selamat tinggal malaikat kematian. Engkau gagal kali ini.

Kamis, 12 Juli 2007

Mengeluh

lagi kejebak macet, mengeluh..
lagi ngliat angkot berhenti seenak perutnya, mengeluh..
lagi nunggu makanan rada lama, mengeluh..
lagi nugguin temen, mengeluh..
lagi bengong juga, mengeluh..

kurang puas apa sih kita?
untung aja kita masih di kasih hati sama Tuhan..
(meskipun bukan untuk terus-terusan mengeluh)

Sabtu, 07 Juli 2007

Orang Miskin vs Pendeta

Aku adalah orang miskin. Yang menderita sengsara dalam kerasnya hidup. Bukan aku yang memilih. Tetapi takdir ku telah berkata. Dan aku tak sanggup menolak. Aku tak bisa mengubah keadaanku. Aku tak bisa mengubah keadaan sekitarku. Aku hanya bisa menatap semu diriku. Sambil menertawakan apa yang ada disebelahku. Meringis kecil kala tersiksa. Pedih hati? Itu biasa. Mungkin itu salah satu kunci hidup para orang-orang miskin seperti diriku. Kalau tak kuat menghadapinya, lebih baik mati saja. Daripada bergumul dengan hati, lebih baik berjuang demi sebuah nilai nominal. Toh, aku tak hidup dari hatiku. Kalau bukan aku yang memikirkan diriku, siapa lagi. Banyak orang lalu lalang dari pandanganku tetapi tak seorangpun duduk bersamaku. Mereka tak peduli. Manusia tak peduli. Dunia tak peduli. Tuhan (pun mungkin) tak peduli. Kalau Tuhan peduli padaku, takkan mungkin aku dianggap layaknya seonggok daging basi di tengah jalan yang dihinggapi lalat-lalat. Hanya lalat. Karena hanya mereka yang mau bersamaku. Omong kosong. Orang bicara tentang Tuhan tetapi tak tahu dimana Dia. Lebih baik aku. Aku tahu dimana Tuhan. Tuhan tak jauh dari aku. Sayang Dia tak mau menghadap padaku. Atau barangkali aku yang membelakanginya. Tak tahu harus berbuat apa. Bagaimana. Kapan.


Aku adalah Pendeta. Yang percaya bagaimana Tuhan telah menciptakan dunia ini. Beserta isinya. Termasuk manusia. Dan seperti aku ketika membuatkan teh untuk sahabatku. Aku buatkan teh terbaik untuk mereka. Dengan cangkir terbaik. Dengan pelayanan terbaik pula. Aku percaya Tuhan berikan yang terbaik pula untuk dunia ini. Beserta isinya. Tetapi karena masa lalu, kita harus menghadapi masalah hingga detik ini. Tak ada manusia tak bermasalah. Masalah seperti nafas. Yang takkan berhenti hingga mati. Dan ikut terkubur bersama raga ini. Tiap manusia berhak menentukan pilihan dalam hidupnya. Kadang ada yang benar, kadang ada yang salah. Kadang ada yang berhasil, kadang ada yang gagal. Kadang ada yang kuat, kadang ada yang terhempas. Tak menentu. Dan berhasil atau tidaknya, hanya akan diketahui pada saat jiwa meninggalkan raga. Karena di saat itulah kita telah mengakhiri apa yang kita jalani di dunia ini. Akhiri dengan keberhasilan, atau kegagalan. Maka dari itu, kusandarkan diriku pada Sang Pencipta. Karena hanya Dia yang menentukan keberhasilan ciptaannya. Tak mudah memang. Hidup sesuai aturanNya. Yang membuat kita tak mampu, dan terkadang menyerah. Tetapi inilah harga yang harus dibayar saat seseorang menentukan langkah. Langkah yang akan berhasil di garis finish. Tentunya dengan gelar sang juara. Takkan ada pecundang yang berhasil di garis akhir. Aku seperti itu. Dan aku ingin dunia ini seperti itu. Manusia seperti itu. Yang akan berhasil di akhir nanti. Yang mendapatkan segalanya dari Yang Ada. Bukan dari Yang Tidak Ada.

Pendeta vs Orang Kaya

Aku adalah seorang pendeta. Aku hidup dalam kebenaran Sang Pencipta. Kebenaran yang diberikan oleh Sang Maha Kuasa. Tetapi juga kebenaran yang diterjemahkan oleh manusia. Kebenaran yang terus dicari oleh tiap-tiap manusia , dalam keterbatasannya. Sejak masa kecilku, aku telah mengenalNya. Dan sejak masa mudaku, aku telah menyerahkan segala yang kupunya. Bukan aku lagi yang punya diriku. Bukan aku lagi yang berhak menentukan langkahku. Bukan untuk aku lagi aku hidup. Tiap hari aku merasa telah menemukan kebenaran yang lebih dalam lagi. Aku semakin merasa ingin segera bertemu dengan Sang Pencipta. Tentunya setelah Dia mengijinkan dan menentukan langkahku. Semakin hari, semakin banyak kutemukan carut marut dunia ini. Dunia yang putih ini telah menghitam. Manusia suci telah berdosa. Hanya karena buah yang terlarang. Tentunya tak mungkin menyesali hal itu sekarang. Ada hal yang lebih penting. Memperbaiki apa yang telah musnah untuk menjadi kembali ada. Ada dalam diriku. Dirimu. Kita. Dunia ini. Tetapi tak jarang kutemukan orang memandangku dengan sebelah mata. Menganggapku orang tak berguna yang memikirkan hal yang tidak ada. Konyol. Munafik. Bodoh. Banyaklah anggapan mereka. Mereka yang di-buta-kan oleh dunia ini.

Aku adalah orang kaya. Yang selalu berhasil dalam segala usaha bisnisku. Sejak kecil aku dibentuk untuk menjadi seperti sekarang ini. Orang kaya. Berbagai hal perihal dan nasehat usahawan mampir ke telingaku. Tiap hari tanpa gemblengan hidup dari mereka. Mungkin saja otakku telah berukir gambar uang. Karena memang hanya itu yang kupikirkan. Menurutku, hanya dengan uang, manusia mendapatkan apa yang mereka inginkan. Tidak tanpa uang. Dan itulah kebenaran yang kuanut. Karena memang itulah yang terjadi sampai saat aku berdiri sekarang ini. Munafik, jika orang berkata dapat berbuat segalanya tanpa uang. Banyak manusia tak sependapat denganku. Mereka berpendapat bahwa aku telah dibutakan oleh uang. Menyembah uang. Dipekerjakan oleh uang. Padahal, uang telah bekerja untukku. Uang yang telah tunduk kepadaku. Dan uang lah yang telah ku-buta-kan. Terserah orang mau bilang apa. Menurutku, aku lebih baik dan lebih rasional. Aku tidak menyerahkan hidupku kepada sesuatu yang tidak ada. Menyembah hal yang kosong. Memuja sejarah masa lampau. Aku memikirkan yang ada. Hal yang tampak dan dibutuhkan segala umat. Karena manusia hidup dan melihat dari kenyataan. Bukan dari mimpi dan angan-angan belaka. Bukan dari hal yang semu dan tokoh fiksi. Aku adalah aku. Yang tak pernah berubah. Kecuali oleh uang dan....dunia ini.

Orang Kaya vs Orang Miskin

Aku adalah orang kaya. Orang yang mempunyai barang berlebih. Dahulu aku miskin. Pada masa mudaku, aku telah mendapat ilmu dan pengalaman dari para orang yang lebih dahulu kaya sebelum aku. Dari para orang-orang tua itulah aku mendapatkan berbagai hal yang dapat kupelajari. Berbagai trik dan intrik yangdapat kugunakan dalam bisnisku. Berbagai nasehat. Berbagai pengalaman. Semuanya itu kudapat tidak dengan gratis. Meskipun sedikit tetapi tetap itu namanya tetap usaha kan. Minimal aku mengeluarkan usaha untuk mendekati dan banyak bergaul dengan mereka. Menghabiskan waktuku bersama mereka. Melihat dan mengamati berbagai-bagai bisnis mereka. Dari situ pulalah aku mendapatkan itu semua. Bahkan terjun langsung ke lapangan untuk mengetahui berbagai masalah dan timbul. Dan ketika aku memualai usahaku sendiri, bisa dipastikan aku telah lihai dalam berbisnis. Orang-orang semakin memandangku. Orang-orang semakin memujaku. Melihatku sebagai sosok yang sukses. Kaya raya. Meskipun tidak sedikit pula orang yang mencibirku. Men-cap-ku sebagai bentukan tangan-tangan orang kaya sebelumku. Tapi, peduli setan lah. Aku memandangnya hanya sebagai peluang yang dapat aku manfaatkan sebaik-baiknya. Aku merasa jalan yang selama ini kutempuh telah benar. Dan kepada manusia-manusia itu, aku hanya berpikir bahwa mereka telah memilih jalan lain untuk menuju ke-sukses-an. Tentunya ke-sukses-an menurut pikiran mereka masing-masing. Tidak ada yang salah dengan ke-kaya-an ku. Damainya hidup.


Aku adalah orang miskin. Miskin bukan karena kutukan. Juga bukan karena musibah. Miskin hanya karena keadaanku dan jalan yang telah kupilih. Aku tidak ingin seperti manusia-manusia yang kaya bukan karena hasil jerih payah mereka sendiri. Kaya turunan. Yang mendapatkan segalanya hanya dari kemampuan mereka yang se-level seorang pelacur. Seorang pelacur yang mendapatkan pelanggannya hanya bermodal tubuhnya yang seksi, pakaian yang minim serta sedikit rayuan-rayuan gombal. Aku ingin hidup bersih. Aku ingin hidup benar. Aku imempunyai waktu dan kesempatan yang sama dengan orang lain. Tetapi takkan pernah kuhabiskan masa mudaku untuk bermanis-manis di depan tua-tua ku. Aku bekerja demi diriku. Aku mempunyai tujuan. Untuk kaya. Dan dengan jalan yang harus kupilih. Dan itu bukan sesuatu hal yang salah. Tentunya aku harus bekerja lebih keras lagi untuk menjadi kaya. Itu resiko yang harus kutanggung. Meskipun jalan di depan terseok-seok. Dan tubuhku harus jatuh bangun. Semuanya tetap kunikmati. Itulah seni dalam berbisnis. Kadang aku berpikir, mengapa orang kaya itu tidak pernah mau mendengarkan pendapat dan nasehatku. Apakah karena aku miskin. Mengapa hanya ’dewa hidup’ mereka yang layak mereka dengarkan. Dari hal kecil aku dapat belajar hal besar. Mengapa orang kaya tidak dapat melakukan.