Rabu, 08 Juni 2011

Jejak

Percikan air menerpa wajah
Menghentak diri dari alam mimpi
Sedikitpun tak sadar akan diri
Dimanakah jiwa ini?

Pekat malam tanpa cahaya
Diujung pandang pun tak tampak
Angin dan laut pun serasa tertawakan diri
Dan selubung takut diantaraku

Namun pandang kembali beradu
Jari dan suara temani diriku
Tahu aku arti aku, kau, dan bersama
Meski aku 'kan tetap melangkah sebagai pribadi

Dan jiwa ini pun kembali
Meski malam akan tetap gelap
Ku tahu ku tak seorang diri
Karna beribu bintang selalu ada bagiku, di atas sana
'tuk awasi jejakku..

-laboan bajo, 020611-

Senin, 02 Mei 2011

Pendidikan kah?

"Apa guna punya ilmu tinggi kalau hanya untuk mengibuli/membodohi.
Apa guna banyak baca buku kalau mulut kau bungkam melulu."
-Apa Guna (Wiji Tukul)-

Gambaran itukah yang masih melekat hingga sekarang? Bukankah sudah bertahun-tahun berlalu masa-masa dimana kita dibodohi oleh penjajah, oleh kungkungan budaya, bahkan oleh rezim? Dimanakah sebuah kata yang bernama "pendidikan"?


Hai, kawan!! Jaman itu mungkin sudah berlalu. Sekarang ini kami sudah banyak melihat pendidikan ada dimana-mana. Pendidikan dari TK, SD, SMP, SMA, bahkan perguruan tinggi sudah ada dimana-mana. Mengapa kau tanyakan keberadaannya?

Maaf, aku tak tahu kalau itu yang namanya pendidikan. Yang aku tahu semua yang kau sebutkan itu hanya bangunan dengan plang yang tertera di depan, yang mungkin semakin besar bangunan maka semakin besar pula nama yang terpampangnya. Bangunan yang di isi oleh banyak orang hilir mudik dengan seragam kebanggaannya. Bangunan yang di dalamnya ada sebuah proses dialog (terkadang monolog), buku, tulis, hitung, dan uang.
Aku tak tahu apakah jika sebuah bangunan (atau gubuk reyot) yang di dalamnya tidak ada buku, seragam, bangku, dan uang tetapi ada proses pembelajaran dan transfer ilmu bisa disebut dengan pendidikan?

Sok berat bahasamu. Aku tak tahu proses transfer ilmu macam apa yang kau inginkan. Yang ada sekarang adalah pendidikan, sudah itu kami lengkapkan semua di dalamnya. Kurikulum, fasilitas, sistem, keberlanjutan. Tak ragu kami akan hasil yang akan diperolehnya. Sistem ini sudah sangat teruji, sudah mengikuti perkembangan jaman, sudah sesuai dengan negara-negara maju yang canggih teknologinya. Pendidikan adalah sistem, ilmu dan tujuan.

Aku suka perkembangan. Aku tak menolak jaman. Tetapi lihatlah apakah jaman ini dirasakan oleh semua orang yang berhak merasakan. Lihatlah apakah yang kau sebut pendidikan itu telah berguna bagi masyarakat terkecil. Kau sendiri yang sebut sistem tetapi kau hanya ambil apa yang orang lain buat, bukan kau buat sendiri untuk bangsamu. Kalau kita ingin maju bolehlah kita lihat ke atas, tetapi jangan pernah kita lupa bahwa masih ada yang tenggelam di bawah kita. Tak bisa kita rengkuh langit dengan menginjak dalam-dalam kepala manusia di bawah kita hingga terbenam di dalam lumpur. Sistem macam apa yang bisa meninggalkan mereka yang di belakang dengan membiarkan mereka dengan keterbelakangan mereka. Pendidikan adalah pengertian, kesadaran, dan tindakan.


Mungkin bukan jaman lagi jaman kita ditindas oleh penjajah, oleh budaya atau oleh rezim; namun masih banyak musuh yang harus kita berantas. Tak sadar kita telah dijajah oleh yang namanya individualisme, egoisme, hedonisme, dan materialisme; mungkin pun dengan isme-isme lainnya. Akankah ini bisa dijawab hanya dengan sebuah hitam di atas putih, itupun kalau disertai dengan sebuah pelaksanaan?


Selamat memperingati Hari Pendidikan Nasional
-Pendidikan merupakan proses yang takkan berhenti, dan takkan dapat dihentikan-

Kamis, 21 April 2011

Si Anggrek dan Sang Pengampun

Setiap kali melihatmu, sebenarnya aku tak tahu harus berbuat apa. Aku hanya tahu kalau rasa sakit hati itu akan kembali muncul setiap melihatmu. Berulang kali muncul selalu aku coba untuk tak hiraukan dan kembali memadamkannya. Tapi selalu saja dia kembali..

Ada satu kali aku baca tentang sebuah rasa memaafkan bagi sesama kita. Saat kubaca pertama kali, aku teringat padamu dan itu menyadarkanku akan pentingnya sebuah pengampunan. Kesadaran akan pengampunan.
...

BUKAN UNTUK MARAH..

Ada seorang tuan menyukai bunga anggrek. Pada suatu hari ketika hendak pergi berkelana, dia berpesan kepada bawahannya, harus hati-hati merawat bunga anggreknya.

Selama kepergiannya, bawahannya dengan teliti memelihara bunga-bunga anggrek tersebut. Namun, pada suatu hari ketika sedang menyiram bunga anggrek tersebut, tanpa sengaja menyenggol rak-rak pohon tersebut sehingga semua pohon anggrek berjatuhan dan pot anggrek tersebut pecah berantakan dan pohon anggrek berserakan.

Para bawahannya yang sangat ketakutan, bermaksud menunggu tuannya pulang dan meminta maaf sambil menunggu hukuman yang akan mereka terima.

Setelah sang tuan pulang mendengar kabar itu, lalu memanggil para bawahannya, dia tidak marah kepada mereka, bahkan berkata, "Saya menanam bunga anggrek, alasan pertama adalah untuk dipersembahkan kepada org yg suka melihatnya, dan yang kedua adalah untuk memperindah lingkungan di daerah ini, bukan demi untuk marah saya menanam pohon anggrek ini."

Perkataan tuan ini sungguh benar, "Bukan demi untuk marah menanam pohon anggrek."

Dia bisa demikian toleran, krn walaupun menyukai bunga anggrek, ttp di hatinya tdk ada rasa keterikatan akan bunga anggrek. Oleh sebab itu ketika dia kehilangan bunga-bunga anggrek tsb, tidak menimbulkan kemarahan dlm hatinya.

Sedangkan kita dlm kehidupan kita, sering terlalu banyak kekhawatiran, terlalu peduli pada kehilangan & memperoleh, sehingga menyebabkan keadaan emosi kita tidak stabil. Kita merasa tdk bahagia.

Maka seandainya kita sedang marah, kita bisa berpikir sejenak,
"Bukan demi marah menjadi sahabat."
"Bukan demi marah menjadi suami istri."
"Bukan demi marah melahirkan dan mendidik anak."
Maka kita bisa mencairkan rasa marah & kesusahan yang ada dalam hati kita & berubah menjadi damai.

Sahabat....

Setelah membaca artikel ini, ketika hendak bertengkar dengan keluarga,istri/suami saudara,
sahabatmu,ingatlah perjumpaan kalian,bukan demi untuk rasa marah..

Aku sadar dan bisa untuk mengampuni apa yang orang lain lakukan untuk ku. Namun tak tahu aku mengapa sakit itu kerap kali muncul. Tak mudah untuk melupakan, aku tahu itu. Namun bukan hanya melupakan dan memaafkan, aku juga ingin menyelesaikannya.


"...dan ampunilah kesalahan kami seperti kamipun mengampuni orang yang bersalah kepada kami."
-satu hari menjelang peringatan akan Dia yang mengorbankan diri di atas salib sehingga pengampunan terbesar ada untuk ku dan dunia ini-

Kamis, 14 April 2011

Dit.. Sekarang Aku Tahu..

Saat itu baru sehari aku punya kuya. Dan belum sehari mereka kulantik, kau sudah mengeluarkan amarahmu pada seorang dari mereka. Aku tahu apa yang kau maksud dan aku sangat paham apa yang kau ingini. Tentang bagaimana kaderisasi berjalan adalah banyak kesamaan anatara aku dengan kau.

Semalam aku berbincang dengan seseorang yang kuyanya dari angkatan kuya yang pernah kena amarahmu itu. Dan semalam adalah malam dimana aku sangat emosi. Dia berkata, "Mau diapakan juga, organisasi ini tak akan berubah."
Bolehkah aku marah?

Memang jaket itu sudah bukan bagian dari kulitku, tapi darah ini yang telah dibentuknya takkan pernah berhenti mengalir.

Aku tahu, Dit.. Aku tahu sekarang.. Aku tahu apa yang kau rasakan saat itu..
Darah ini bergejolak saat orang itu merusak apa yang telah kita perjuangkan dahulu..
Ingin rasanya kuhajar orang itu.. (disaat-saat ini aku teringat kau, Dit..)
Tapi kalau kau berurusan dengan seorang wakil dari angkatan mereka, kali ini aku berurusan dengan pemimpin kita saat ini..
Pemimpin saat ini berkata seperti itu dan (dengan bangganya) hendak membawa kita semua ke jurang kehancuran.
Mungkin yang kau rasa dahulu seperti yang aku rasa saat ini, ingin rasanya ku non him kan orang itu. Tak layak dia menjadi bagian dari kita, apalagi menjadi pemimpin kita..

Bolehkah aku marah, Dit?

Minggu, 13 Maret 2011

Yang Terbesar dari Manusia

Kefatalan manusia yang terbesar adalah sombong.
Kebodohan manusia yang terbesar adalah menipu.
Kesedihan manusia yang terbesar adalah iri hati.
Kegagalan manusia yang terbesar adalah rendah diri.
Kebanggaan manusia yang terbesar adalah keuletan.
Kehancuran manusia yang terbesar adalah putus asa.
Kekayaan manusia yang terbesar adalah kesehatan.
Ketidakmampuan manusia yang terbesar adalah membayar hutang budi.
Keluhuran manusia yang terbesar adalah memaafkan.
Kekurangan manusia yang terbesar adalah bersungut-sungut.
Kebajikan manusia yang terbesar adalah rela berkorban.


-dari satu buku yang kubaca 50 hari yang lalu-

50 Hari Telah Berlalu

Pagi cerah hari ini. Kumainkan jemariku di atas keyboard laptop ini. Terdengar satu lagu "Kembali PadaMu"-One Way. Rasa itu kembali menyelimutiku ketika kulayangkan pandangan mata ini ke sebelah kiri. Masih terasa seperti kemarin saja ketika kami lakukan foto yang terpajang di meja itu..

24 Desember 2010
"Teng.. Teng..", bunyi bel rumahku terdengar nyaring siang ini. Ku buka pintu rumahku dan ternyata kiriman paket yang kupesan beberapa hari yang lalu telah sampai.
Paket dari Sumatera ini sengaja kupesan untuk makan bersama di Natal kali ini. Sudah lama aku ingin makan bersama sekeluarga dengan hasil keringatku. Aku ingin bersama-sama merasakan apa yang kudapat dari hasil kerjaku. Tak mungkin kulakukan dengan mengajak sekeluarga ke rumah makan karena pasti aku tak boleh membayarnya. Banyak yang lebih berwenang soalnya, hehe..

28 Desember 2010
Semalam aku bilang ke Mami kalau lagi ingin makan soto. Pagi ini sengaja kami bangun pagi-pagi untuk sarapan soto. Kami berempat (Mami, Papi, ko Christ, aku; ci Lina sudah masuk kerja) menuju ke soto di daerah Tipes. Jarang aku makan di tempat ini karena aku punya tempat langganan lain tapi memang disini enak, seperti yang dibilang Mami.
Dan makan pagi itu merupakan terakhir kalinya kami makan bersama.

15 Januari 2011
Pagi ini aku pulang dari kampus. Sepanjang jalan pulang menuju kos, aku selalu terbayang kalau aku akan bertemu dengan seorang kawanku. Sudah lama aku tak bertemu dia karena ada masalah diantara rasa kami ini. Aku memang ingin bertemu dia sejak lama, tapi selalu kondisi menutup keinginan ini. Di otakku selalu terbayang kalau aku akan bertemu dia yang sedang joging pagi ini.
Aku berhenti di jalan depan kos ku. Aku duduk sejenak sambil menunggu nasi kuning yang kupesan untuk makan siang nanti. Tak berapa lama, aku lihat kawanku itu joging melewatiku. Sejenak kami berbincang basa-basi. Masih terasa kejanggalan diantara kami. Tapi yang membuatku terkejut adalah apa yang terbayang di otakku beberapa menit yang lalu menjadi kenyataan. Entah..

16 Januari 2011
Berlanjut dari pertemuan kemarin, siang ini kami bertemu untuk makan siang. Kegiatan rutin yang telah lama tidak kami lakukan.
Dan aku masih ada di tempatnya ketika ada telepon dari Mami.
"Papi sakit.", kata Mami dari ujung sana. Sejenak aku berbincang dengan Mami dan kutahu keadaan di Solo beberapa hari belakangan ini.
Beberapa saat setelah kututup telepon, kembali bayangan itu masuk ke dalam pikiranku. Aku terbayang kalau aku sedang di rumah Solo dan saat itu Papi tidak ada di rumah.
Segera aku buang jauh-jauh bayangan itu, tetapi setiap ada kesempatan di sepanjang hari itu, selalu bayangan itu masuk ke dalam pikiranku. Aku berdoa dan berserah padaNya.

20 Januari 2011
Sore ini aku masih duduk di kampus. Masih kutunggu langit gelap untuk pulang ke kos, aku malas pulang sore itu karena pasti kena macet di jalan.
Ketika aku duduk sendirian itu, kudengar panggilan telepon dari ci Lina.
"Dri, Papi meninggal.", suara itu terdengar bersama isak tangisnya.
Aku masih tak percaya. "Ci, ini serius? Beneran nih?", pikiranku kosong seketika.

Sepanjang perjalanan di kereta, aku tak tahu harus bagaimana. Air mata ini terus mengalir, meskipun aku ingin tegar.
"Dek, kamu harus kuat. Beritahu saya kalau ada yang diperlukan, apapun.", satu dari belasan telepon yang kuterima. Berpuluh-puluh SMS kuterima malam itu untuk menyatakan rasa belasungkawa.
Sejenak aku merasakan penguatan dari Tuhan atas keberadaan mereka semua yang memperhatikanku.
Termasuk pelukan seorang kawan sesaat sebelum aku naik ke kereta. Ingin kubalas pelukan itu, namun aku tak sanggup. Rasa sedih ini sangat dalam, entah. Kami berdua punya cerita yang sama. Meskipun saat ini kami sedang jauh, tetapi dia datang untuk berikan bahunya.
Dan aku hanya berkata, "Kenapa kalau sudah begini semuanya terasa lebih mudah buat kamu?". Maaf.
Aku selalu teringat Papi dan semua yang di Solo saat di sepanjang perjalanan ini.

23 Januari 2011
Tiga hari ini berpuluh-puluh telepon dan SMS yang masuk ke HPku padahal aku tak memberitahu mereka semua, pikiran ini terlalu kalut dengan kejadian yang mendadak ini.
Aku bersyukur pada Tuhan atas pemberian sahabat-sahabat yang perhatiannya sangat besar kepada kami sekeluarga.
Termasuk ketika kulihat seseorang beransel yang memasuki ruangan dan memberikan penghormatan terakhir kepada Papi dan keluarga. Sosok itu telah membuatku kembali bersyukur. Dia seorang diri datang dari Jakarta ke ruangan ini dengan membawa rasa seorang sahabat dan saudara. Dalam hati aku berjanji tuk hormati dia di sepanjang umurku, dialah seorang.
Termasuk seorang sahabat yang selalu meneleponku dari seberang negara sana. Termasuk keluarganya yang memperhatikanku saat ini. Aku tahu, kalau dia pasti datang kesini jika tidak sedang ada ujian. Bagaimanapun ujian kali ini sangat penting baginya dan tak bisa ditinggalkan.
Aku tahu banyak diantara kawan-kawan yang ingin datang ke ruangan ini, namun aku juga tahu kalau peristiwa mendadak ini tak memungkinkan bagi mereka. Aku sangat bersyukur atas mereka yang menyebarkan berita duka ini kepada kawan-kawanku yang lain, mereka yang selalu menelepon dan me-SMS ku setiap waktu, mereka yang memperhatikanku meski tak bisa disampingku, serta mereka yang memilih melanjutkan liburan mereka.
Terima kasih, sahabat-sahabat ku!
Dan aku bersyukur kepada Tuhan atas mereka semuanya. Hanya karena Dia lah!

Pagi ini peti jenazah akan dikebumikan. Terakhir kali kami bersama-sama sekeluarga dalam satu acara. Namun acara kali ini adalah acara perpisahan, perpisahan raga diantara kami. Aku tahu kalau suatu saat nanti kami akan berkumpul kembali di surga bersama-sama dengan Tuhan.
Sejenak aku bersedih, namun kembali aku dikuatkanNya. Dia mengingatkanku pada suatu cerita tentang saat-saat menjelang kematianNya. Sesaat sebelum kematianNya, Dia pernah berkata pada seorang disampingNya bahwa orang tersebut, yang telah mengakuiNya di saat-saat terakhir hidupnya, akan bersama-sama denganNya di surga kekal. Senyum menghiasi hatiku meskipun mata ini tak bisa berhenti menangis. Hatiku bahagia ketika aku sedih.


Beribu orang memberikan penghormatan. Beribu ucapan kedukaan kami terima. Beribu perhatian kami rasakan. Beribu kenangan kami simpan di dalam hati. Beribu ucapan syukur tetap dapat kami ucapkan.
Semuanya hanya ketika KasihMu yang besar menyelimuti kami semua..

Kau tunjukkan kasihMu saat kami membutuhkan.
Kau buat kami percaya bahwa rancanganMu senantiasa benar dan baik bagi semua.
Kau buat pesta yang sangat meriah di atas sana untuk menyambut kadatangan anakMu.
Kau buat kami tak takut lagi akan hari esok.

"Selamat Jalan, Papi."
-50 hari berlalu kepergian dia yang selalu kuhormati, menuju alam kekal bersama Dia yang takkan pernah sekalipun pergi dari hidup kita-

Selasa, 08 Maret 2011

Semoga Akan Selalu Ada..

Ketika mendung semakin bergelayut, mentari pun tertutup.
Mega yang dahulu sejukkan hati, entah hilang kemana.
Waktu terus berjalan, tetapi sang rasa tetap tak beranjak dari tempatnya.
Sedih.

Aku kira semuanya ini tentang otak dan hati.
Memang tak ada yang menang diantaranya.
Karena aku minta keduanya untuk selalu bersama.
Tapi bukan berarti bahagia tak boleh datang.

Karena bahagia itu berarti senyuman.
Sebuah senyum pada bibirku.
Tapi tak ada arti ketika hanya satu bibir yang tersenyum.
Karena dunia milik kita.

Jalan ke bukit telah dipilih, tak ada jalan tuk kembali.
Hanya terjatuh yang hentikan semua.
Hati ini siap untuk melangkah, meskipun otak semakin keras berteriak.
Namun yang terkecilpun bukanlah tak mungkin.

Karena hidup adalah pilihan.
Dan kesalahan merupakan tuntutan atas pilihan itu.
Meskipun maaf tak dapat hapuskan tuntutan, tetapi dapat tenangkan jiwa.
Semoga itu akan tetap ada.