Jumat, 20 Juni 2014

Kita Berhak...

Malam itu, hanya bersama tiga kawanku di lorong sunyi kampus yang penuh dengan tiang batu, kami berdiri di depan laki-laki yang kukenal sebagai seniorku. Ya, kami sedang dalam masa penerimaan sebagai anggota organisasi di kampusku.
Sejenak aku tertegun dan seakan tak sanggup aku mendengar suaranya. Suara yang tak terdengar begitu keras namun tampak sangat tegas.
"Kalian tahu, kalian berdiri di tempat ini menyisihkan berapa banyak orang dan berapa banyak mimpi manusia?!"
"Kalian tahu, banyak darah dan air mata tercurah untuk kalian berada di tempat ini?!"
"Kalian tahu bahwa dinding ini menyimpan banyak tangis manusia di luar sana yang berharap pada kalian?!"
Aku baru tahu..

Kurasa itu bukan kali pertama aku mendengar cerita dan orasi macam itu. Mungkin sudah beberapa kali, namun kali itu adalah pertama kali kesadaran datang kepadaku.
Kesadaran selalu berbuah pada pertanggungjawaban. Tanggung jawab atas pelaksanaan perbuatan dari kesadaran yang kita terima.
Mau tak mau, siap tak siap, tiap butir kalimat yang diucapkannya telah masuk dan tercerna dalam diriku.
Ya. Kami, kita semua tepatnya, seluruh pemuda yang mengaku bangsa Indonesia, berdiri di atas tangis dan darah manusia. Bangsa ini didirikan bukan hanya melalui mimpi, namun juga melalui darah dan perjuangan.

Mungkin banyak diantara kita yang sudah hiraukan pelajaran sejarah dan saat ini sedang menghindari sejarah dengan mengatakan bahwa kita tak perlu belajar sejarah karena sejarah bangsa ini pun sudah banyak yang diputarbalikkan.
Kawan, kurasa ada benarnya. Namun, juga tak semua pemikiran itu benar.
Kalau kita merasa kata-kata itu hanya keluar dari mulut aktivis, kita sudah selayaknya belajar untuk merenung sejenak...

Sejarah penggantian presiden kita selalu diliputi oleh kabut tebal.
Peristiwa supersemar berujung pada turunnya bung Karno. Setelah berpuluh tahun kita hidup dalam kebenaran subjektif yang ditanamkan sang penguasa kedua, kini kita seolah mencari kebenaran yang sebenar-benarnya dan seolah tak dapat mempercayai pelajaran sejarah yang kita dapatkan.
Hati kita yang terluka akibat kebohongan yang terkuak seolah meminta otak kita menolak segala kenyataan.

Kenyataan yang hingga kini masih dapat ditelusuri.
Kenyataan bahwa banyak darah tercurah bagi peristiwa itu. Kenyataan bahwa banyak tangis dan air mata yang terlinang akibat kekejaman. Kenyataan bahwa telah terjadi penindasan terhadap kaum lemah.
Kita lupa akan hal itu..
Bahkan ketika itu terus berlangsung tatkala sebagian dari kita termanjakan oleh kondisi yang super nyaman ala penguasa masa itu.

Belum lama berselang, beberapa belas tahun yang lalu, kembali peristiwa sejarah penggantian presiden kita dilalui dengan pengorbanan nyawa manusia.
Peristiwa yang terjadi dalam beberapa tahun dipenuhi dengan korban kekejaman, penindasan, kesewenang-wenangan, air mata, darah, dan nyawa.
Berapa banyak manusia yang terkorban 'hanya' karena mimpi dan perjuangan yang dipercaya.
Bukan karena mimpi yang salah dan perjuangan yang menentang dunia. Mimpi yang diperjuangkan adalah mimpi yang sama atas proklamasi negara ini. Perjuangan yang menuju kebenaran dan kehidupan sesama, bukan perjuangan yang menghancurkan manusia.
Sudah lupakah kita???

Penggantian presiden kali ini pun, membuat aku sedikit bergidik.
Aku takut hal sama akan terulang..
Ketakutanku bukan hanya pada memori atas peristiwa yang menyayat hati kala itu, juga ketakutan bahwa kita lekas menjadi lupa dan takut mengingat kembali. Aku takut menjadi lupa.

Kembali aku merenung..
Karena merenung terkadang membuatku memasuki dunia dimana aku dapat kembali ke masa itu.
Merasakan bahwa tanah yang kupijak adalah tanah yang direbut oleh taruhan nyawa dan air yang kunikmati berasal dari tangis dan darah anak bangsa yang beruntung mendapatkan pencerahan sekaligus jalan hidup untuk melaksanakannya dalam perbuatan.

Kali ini aku harus memilih. Bukan berdiam dan mengatakan seolah-olah itu masalah para elit dan aktivis.
Ini bukan persoalan mereka. Ini adalah persoalan bahwa kau berada di tanah yang kaupijak dan kau tak boleh lupa darimana tanah itu berasal. Kau tak boleh lupa kau berasal dari mana.
Ketika kau memikirkan, kau harus melaksanakan.
Ketika kau melaksanakannya, kau harus memperjuangkannya.
Ketika kau memperjuangkannya, kau harus mendapatkannya.

Perjuangan kita kali ini tak mudah, kawan.
Aku dengan mudah dapat menentukan kemana aku melangkah. Aku harus memberikan pilihanku ke tangan yang tak penuh darah.
Aku tak mau memilih mereka yang menggenggam luka, amarah, dan darah dari manusia-manusia yang berjuang bagi kita.

Dalam pemikiran, aku dengan mudah melihat mana kawan yang dapat berjuang bersama denganku.
Kawan yang memberikan hidupnya sebagai perjuangan atas mimpi kita bersama.
Kawan yang memberi secercah harapan dan tak penuh darah atas sesama.
Kawan yang membuatku merasakan bahwa aku layak bekerja bersama dengannya untuk membangun segala impian atas bangsa ini.
Aku punya mimpi atas bangsa ini. Aku punya harapan atas bangsa ini.
Dan aku punya perjuangan untuk bangsa ini.
Aku berhak memilih kawan untuk memperjuangkan hal yang sama.
Kita berhak memiliki perjuangan itu bersama...

Salam dua jari.

Berlin, 19 Juni 2014.

Senin, 24 Maret 2014

Kembalikan Negeri Kita!!!



Apakah kita muak dengan kondisi negara kita? Apakah kita sudah jenuh dengan kebohongan dan hanya bisa menggerutu? Atau kita sudah tidak peduli? Kalau boleh jujur, kubilang untuk kalian semua: TERSERAH!!!
Mengapa 'terserah'? Karena kupikir kita semua punya suara untuk menentukan nasib bangsa kita. Namun, sekali lagi namun, untuk kita bisa ngomong terserah pun, kita harus tahu mengapa kita bisa bilang terserah. Tanpa dasar (atau keinginan untuk berpikir), kita hanya seonggok daging berselimut ego.

Pembangunan negara selalu indentik dengan pembangunan infrastruktur, meski itu bukan satu-satunya tolok ukur dan tentu tidak dapat berdiri sendiri tanpa faktor lainnya seperti ekonomi, politik, kebudayaan, dan lain sebagainya. Carut marut kondisi pembangunan di negara ini sudah barang tentu menjadi cerminan pengelolaan yang carut marut juga tentunya. Salah seorang profesor bahkan setiap kali berbicara dihadapan petinggi negeri selalu berkata bahwa solusi dari memperbaiki infrastruktur di Indonesia adalah pertobatan. Jika hendak ditarik lebih jauh lagi, tampaknya pernyataan itu tidak salah dan tentu saja berkaitan erat dengan kondisi pemerintah yang mengelolanya.



Ditilik dari berbagai sudut, kondisi infrastruktur sangat dipengaruhi oleh perencanaan yang matang. Satu hal itu yang tampaknya lepas dari genggaman kita. Meski banyak perencanaan yang sudah disusun dalam jangka pendek, menengah, dan panjang; namun jika benar ditelaah lagi, perencanaan yang dimaksud itu adalah perencanaan program sesuai jangka waktu yang ditetapkan diatas, bukan perencanaan yang didasarkan oleh ilmu pengetahuan. Seharusnya, perencanaan berjangka harus didasarkan pada basis keilmuan. Selama ini yang terjadi di Indonesia lebih banyak perencanaan didasarkan pada kebutuhan. Ya, memang harus berdasar kebutuhan namun kebutuhan yang seperti apa. Terlebih, sangat tipis batas antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan yang tidak ditunjang dengan keilmuan akan menghasilkan malapetaka. Sebagai contoh, jika seorang awam diminta seseorang untuk menolong dia menyembuhkan tangan yang terkilir, apakah kita berani? Tentu tidak, meski orang tersebut sangat membutuhkan bantuan tetapi tanpa ilmu yang cukup malah akan memperparah cedera.

Selanjutnya adalah proses pelaksanaan pembangunan yang tidak didukung dengan kemampuan terbaiknya. Secara teknis, sebenarnya negara ini penuh dengan orang-orang pintar yang juga berdedikasi terhadap pembangunan namun mereka tersisih dalam persaingan yang amburadul sehingga banyak yang menjadi pengambil keputusan adalah orang-orang kotor yang memenangkan persaingan dengan cara kotor pula. Yang terjadi kemudian adalah pengambil keputusan itu yang menentukan kualitas pembangunan di negara ini. Inilah kondisi pemerintah kita sekarang.

Jangan pernah menyalahkan dan mempertanyakan mengapa orang-orang yang baik dan pintar itu tersisih. Kalau kita tak pernah merasakan kondisi di dalam struktur dan bagaimana mereka berjuang sebagai minoritas, kita tak pernah tahu beratnya perjuangan mereka dan helaan nafas setiap kali suara mereka hanya berakhir di perintah atasan, paling jauh pun hanya berhenti di gebrakan meja dari suara sang idealis. Mereka adalah orang-orang yang akan muncul ketika pemimpin di negeri ini adalah pemimpin yang berhati bersih dan memberikan kompetisi yang jujur terhadap sistem dibawahnya; mereka akan muncul pada saat itu. Selain itu juga, masih banyak orang-orang yang sebenarnya ingin merubah keadaan namun jalan yang mereka tempuh adalah menjadi partikel bebas yang terus menyuarakan kebenaran di sudut-sudut ruang gelap. Sekali kita memanggil, mereka akan bergerak keluar secara serentak.

Kondisi carut marut yang penuh dengan tangan kotor itu dipengaruhi oleh banyak hal, KKN salah satunya. Akar permasalahan ini tentu saja karena warisan sistem pemerintahan kita yang sepertinya dirancang supaya setiap manusia didalamnya hanya bergantung pada perintah atasan. Celakanya, perintah atasan itu bukan hanya perintah yang didasarkan pada perencanaan keilmuan, hampir seluruhnya didasarkan pada keinginan sang penguasa semata. Terlebih, rekayasa sistem pemerintahan yang terkait gaji, kesejahteraan, dan etika kerja pun sangat mendukung warisan tersebut.

Menjadi pertanyaan lanjutan adalah apakah kondisi tersebut tidak dapat diubah? Tentu saja bisa, namun ini menjadi tugas utama seorang pemimpin negara yang akan segera kita pilih pada tahun ini. Kunci utama yang harus dibawa adalah pertobatan nasional.



Mengubah kondisi infrastruktur yang sudah semakin parah ini hanya dapat dilakukan dengan dua dasar, yaitu: keilmuan dan pemberantasan korupsi.

Dalam hal keilmuan, perencanaan berjangka dan pembangunan harus didasarkan pada keilmuan yang berintegrasi. Banyak ilmuwan, akademisi, dan profesional yang dapat menyumbangkan pikiran mereka dalam proses ini. Mereka yang selama ini hanya menjadi 'narasumber' para pengambil kebijakan dapat diberikan peran yang lebih banyak lagi. Dengan proses yang profesional pula, tentunya mereka dapat menentukan arah pembangunan berdasarkan keilmuan yang ada. Yang menjadi fokus kemudian adalah mereka yang dipilih haruslah mereka yang benar-benar berdedikasi untuk keilmuan. Tak dapat disangkal bahwa kondisi bangsa yang berpuluh tahun dikelabui warisan buruk dari rezim terdahulu sudah menunjukkan dampaknya pada oknum-oknum di dunia keilmuan.

Keilmuan harus juga menjadi dasar bagaimana suatu sistem organisasi dapat dibentuk. Jika menentukan perencanaan sudah tepat sesuai dengan keilmuan, maka organisasi juga mengikuti bagaimana perencanaan tersebut dapat dilaksanakan sehingga penentuan sistem organisasi dapat dibuat seramping mungkin dan dengan beban kerja yang sudah terukur dengan sangat jelas dan terencana hingga jangka waktu yang panjang. Keefektifan dan keefisiensian dari organisasi akan sangat menentukan bagaimana perencanaan dapat tertuang menjadi pelaksanaan.

Dalam hal pemberantasan korupsi, beberapa langkah strategis harus dilakukan. Salah satu yang harus diprioritaskan adalah gaji pemerintah. Bagaimana bisa gaji seorang yang mengemban tanggung jawab besar atas pembangunan infrastruktur malah sangat kecil? Tentu bukan berarti gaji nya harus sangat besar namun yang menjadi persoalan adalah bagaimana gaji tersebut dapat memenuhi kebutuhan sesuai dengan jabatannya. Kunci dari sistem gaji ini sangat dapat didasarkan dengan penggajian berdasarkan sistem nilai. Harus ada formulasi yang dapat menentukan gaji seseorang sesuai dengan kapasitas dan tanggung jawabnya. Tidak mudah memang, namun inilah yang harusnya dapat menjadi kunci utama keberpihakan terhadap setiap manusia yang menjadi abdi pemerintah. Jika belakangan ini sering kita dengar bahwa pemimpin negeri yang sekarang berkata tentang gajinya yang sangat kecil, kupikir ini yang agak lucu. Kupikir, rakyat Indonesia pun tak akan peduli kalau gaji seorang pemimpin (misal) 3 milyar per bulan JIKA dapat menyelesaikan banyak masalah yang terjadi, jika dapat mensejahterakan rakyatnya; daripada selalu mengeluarkan keluhan hanya digaji sekitar 60 juta namun tetap saja tidak terasa perubahan yang berarti di negeri ini.

Hal selanjutnya yang harus menjadi perhatian, ketika sistem penggajian sudah tertata dengan baik harus ada sistem hukuman yang dilaksanakan. Sistem hukuman ini merupakan konsekuensi logis dari gaji besar yang sudah diterima. Setiap ada kesalahan atau kerugian negara dalam hal pembangunan harus ada hukuman yang sangat berat yang harus diterapkan, hukuman paling berat di negeri ini pun harus menjadi salah satu hukuman yang dapat diterapkan dalam pemberantasan korupsi (hukuman mati). Ini adalah kunci dan bukti bahwa kita tidak main-main untuk mengelola negara ini. Negara ini tidak bisa dikelola oleh otak yang hanya berkisar soal mengisi dompet, perut, dan selangkangan saja. Ketika kesejahteraan dan gaji sudah dijamin secara pasti tidak akan ada pembenaran yang dapat dikemukakan atas setiap kesalahan.
Pemerintahan yang kuat akan menjadi motor utama pengembalian kondisi infrastruktur di negeri kita ini.



Bukan hal mudah untuk memulai gerakan perjuangan ini. Tidak lah mudah mengembalikan kondisi infrastruktur yang sudah amburadul di berbagai sisi. Namun bukan pula perkara yang mustahil untuk dilakukan. Semua dapat dimulai dengan sosok pemimpin yang mau berubah bangsa dan negara ini. Jika seorang pemimpin bersih dapat muncul dan berteriak ke segala arah, para manusia 'diam' dan mempunyai 'hati' untuk bangsa ini pun akan keluar dari sudut gelap bersama masyarakat.
Jadi, masihkah kita yakin untuk terus berteriak dan berjuang mengembalikan negeri kita menjadi kembali makmur? Tentu saja. Ayo, Kembalikan Negeri Kita!!!

Sabtu, 15 Maret 2014

Setengah Langkah

Akhirnya..

waktu yang dinanti oleh banyak orang telah datang. Sang Ibu memberikan mandat kepada 'anak'nya untuk berjuang menjadi pemimpin negeri ini.

Kali ini kali kedua kebangkitan. Setelah yang pertama menjadi gerakan perlawanan atas rezim penguasa puluhan tahun dan yang kedua menjadi oposisi atas dua kali masa pemerintahan dari pemerintah autopilot (seperti yang dikemukakan banyak media dan pengamat, 2012). Euforia pada kebangkitan pertama ditandai dengan ketidaksiapan penuh menjadi penguasa. Berbagai masalah di kondisi yang kacau tidak dapat diselesaikan dengan kapasitas yang dipunyai. Banyak yang diperbaiki namun banyak pula yang belum tersentuh.

Kali ini cerita itu berubah. Menjadi kubu yang tidak turut berkuasa atas pemerintahan, masa ini dilakukan dengan membangun diri terus-menerus untuk tetap menjadi wadah atas kuasa rakyat. Dalam proses berdiam diri inilah membentuk diri dan membangun kapasitas terus dilakukan dengan menjadikan rakyat atas tuannya dan membentuk kader terbaik sebagai wakil dari rakyat.

Kebangkitan kedua ini dirasa sangat pantas. Partai yang membangun diri dan terus berjuang untuk rakyat bukanlah musuh dari bangsa. Dia yang dimiliki oleh rakyat seharusnya akan terus memperjuangkan kepentingan rakyat dan bangsa. Penunjukan kader terbaik untuk mewakili rakyat menjadi pemimpin atas negara ini pun harus dilakukan. Memang kekuasaan yang diinginkan, namun bukan kekuasaan atas partainya saja, juga kekuasaan penuh rakyat.

Pemberian mandat kepada sang anak masih merupakan setengah langkah. Setengah langkah lagi yang diperlukan adalah menunjukkan bahwa kebangkitan ini juga didukung oleh kapasitas besar yang telah lama disiapkan. Bukan hanya satu anak ini saja yang akan berlari namun juga akan didukung dengan anak-anaknya yang lain, yang siap berlari untuk memberikan perubahan bagi negeri dan bangsa ini hingga seluruh rakyat dapat tegak berdiri menyongsong sang fajar penuh harapan.


...bahwa terus mendengar suara paling senyap sekalipun.
...bahwa terus membuka mata untuk melihat derita rakyat dan berjuang untuk rakyat.
...bahwa terus mengasah nurani dan akal sehat untuk menemukan jalan keluar dari permasalahan yang timbul.
...bahwa mendengar, melihat, peduli, dan tetap berada di setiap detak kegalauan rakyat.
(Megawati Soekarno Putri)

Senin, 16 Desember 2013

Sang Suara

Bukan kali ini saja aku merasa seperti ini. Perasaan ketika aku membaca tulisanmu, aku seperti seorang yang sedang diperhatikan dari belakang. Entah siapa itu, tapi kuharap itu adalah kamu...

--
Kudengar samar-samar sebuah nama kusebut. Ya, terlalu samar-samar, bahkan oleh telingaku sendiri. Aku tak terlalu yakin apakah mulutku mengucapkannya dengan benar atau tidak. Suara yang seperti tertahan itu seperti suara yang keluar akibat leher tercengkeram kuat. Sedikit melirik, kupastikan bahwa leherku baik-baik saja. Kali ini aku terhenyak bahwa suara yang keluar dari mulutku ini adalah akibat dari ketidakpercayaanku.

Terkadang, secara sengaja, aku menguji Suara itu. Suara yang selalu datang ketika aku memejamkan mata. Entah mengapa belakangan ini Suara itu terdengar semakin sering dan semakin keras di hatiku. Bukan sembarang aku menulis mendengar di hati. Meski seringkali aku mendengarnya melalui telingaku, suatu saat aku ingin tahu apakah Suara itu benar-benar kudengar. Saat kupejamkan mata, aku mulai merasakan bahwa telingaku seperti tak berada pada posisi yang benar karena aku mendengar Suara seperti berasal dari bawah kepala, seperti dari dalam jantungku. Makin kuat kupejamkan mata, makin kuat suara itu terdengar olehku. Suara itu makin kuat hingga membuat tubuhku bergetar. Aku tak sanggup...

Lain waktu aku mencoba untuk menguji apakah benar suara itu berasal dari hati. Kali ini aku tak pejamkan mata, namun aku sedikit bertaruh atasnya. Aku mencoba membuang undi untuk mengetahui apakah suara itu membawaku ke arah yang benar atau sebaliknya. Sesaat aku ragu tapi tetap saja rasa penasaran dan pemikiran logis ku mencoba mengalihkannya. Keputusan yang keluar dari hasil undi itu memang berkata kebalikan dari Suara yang kudengar. Akupun memilih untuk mengikutinya dan kau tahu apa yang kemudian terjadi? Hariku saat itu menjadi hancur. Kau takkan tahu rasanya bagaimana hancurnya rencana yang kau susun untuk suatu jadwal yang tak boleh bergeser dan berakhir dengan berantakan semuanya. Ya, aku merasakan kekecewaan sangat mendalam saat itu. Seandainya aku mengikuti Suara yang kudengar tentu tak begini hasilnya. Matahari telah lama tenggelam ketika aku berhadapan di tempat aku mengujinya, kali itu aku menyerah dan mengakui kesalahanku. Dan kudengar kembali suara itu, "Kau bukan menguji, namun mencobai. Janganlah membuang undi atas aku, Suara itu."

--
Ketidaktahuanku, yang berlanjut kepada rasa penasaran dan pertanyaan-pertanyaan di otakku, telah mendapat jawaban kali ini. Jawaban yang menjawab pertanyaanku sekaligus menimbulkan pertanyaan dan rasa ingin tahu yang lebih besar lagi. Kurasa aku tahu bahwa konsekuensi dan jawaban apapun harus kuterima atas segala pertanyaanku. Aku tak bisa membuat jawaban itu harus sesuai dengan keinginanku. Ya, aku terlampau kecil untuk mengerti Sang Suara dalam waktu yang singkat.

Terima kasih untuk kamu yang telah memberikan jawaban kepadaku kali ini. Kurasa jawaban itu bukan hanya untuk ku namun juga untuk mu. Aku merasa kita berdua sedang menghadapi pertanyaan besar yang akan terus semakin membesar seiring dengan jawaban yang kita terima. Pertanyaan itu seperti menyiratkan bahwa kita sedang dalam jalan yang benar. Semoga...

kuharap itu adalah kamu dan Sang Suara...

Sabtu, 14 Desember 2013

Kebenaran dalam Segelas Bir

Kali ini bukan aku saja yang sedikit melihat dunia dengan sedikit berbayang, kawanku W juga sepertinya sudah memasuki dunia yang sama denganku. Memang benar dia yang mengajakku ke tempat ini dan dia pula yang lebih berpengalaman dibandingkan aku. Namun kali ini pengaruh atas kami sepertinya sudah melebih keseriusan kami ketika datang, senyuman sudah banyak menghiasi wajah kami. Tak lupa senyuman pelayan yang sangat hangat mengantar kami menyelesaikan banyak topik perbincangan..

Bagiku, bukan hal sulit untuk merasakan keramaian dan kegembiraan, bukan juga hal yang sulit untuk merasakan kesendirian. Namun kebersamaan itu sulit datang diantara keduanya ketika aku sedikit menolaknya. Hanya sedikit saja, padahal.

Dua gelas bir membawa kenikmatan tersendiri bagi kami. Dapat menikmati bir di kerajaan bir memang hal yang sangat istimewa. Disini bir bukanlah hal yang tabu, seperti layaknya di tempatku berasal. Bukan hanya karena bir disini lebih nikmat dibandingkan disana (cola saja lebih nikmat disini, beberapa orang bilang karena di tempatku berasal harganya harus disesuaikan sehingga bahannya pun sedikit berbeda), namun terlebih karena orang-orang disini sudah menikmatinya untuk konsumsi sehari-hari dan tidak ada kelakuan yang aneh-aneh akibat mengkonsumsi minuman segar ini sehingga tidak ada pula stigma negatif terhadap minuman ini. Terlebih karena harganya yang sangat murah.

Kau tahu, bukannya aku ingin berada di tempat ini untuk menikmati segelas bir saja, aku rasa kali ini aku hanya menikmati sedikit keinginanku tanpa meninggalkan tanggung jawabku. Artinya, sepertinya di tempat ini aku diberi kebebasan yang bertanggung jawab atas kelakuanku. Aku bisa menikmati apa yang tidak terlarang bagiku dan yang menjadi hiburan bagiku, terlebih karena aku bisa mengendalikan hingga diposisi mana aku boleh merasakannya. Suatu anugerah tersendiri ketika kita bisa memperolah kebebasan seperti itu, kebebasan yang bertanggung jawab.

Di dalam diriku pun aku sangat percaya bahwa apa yang kudapat hingga saat ini pun bukan hanya karena kebebasan memilih yang diberikan kepadaku (beserta konsekuensinya), namun juga karena dorongan Semesta yang selalu diberikan padaku. Entah bagaikmanapun bentuknya tapi aku merasakannya dan mengetahuinya bahwa itulah yang menjadi dasar bagiku untuk selalu terus melangkah. Tiap kali ada orang yang tidak percaya kata hati, dia takkan percaya pada keberadaan Semesta. Karena bagi dia, kata hati merupakan bentuk lain dari dalam hati kita. Sementara aku selalu percaya bahwa tiap kita selalu ada yang mengendalikan, yang bersuara melalui hati kita masing-masing. Jadi ketika ada saat dimana aku merasa terlalu ramai atau sepi di dunia ini, aku tahu kemana aku harus melangkah. Langkah yang selalu berasal dari hati. Dan hingga kini tak pernah salah. Karena salah merupakan kata yang menghapuskan kata benar..

Tidak seperti bir yang mendapatkan stigma baik dan buruk dalam lingkungan yang berbeda (meski kita tahu konsekuensi dari hal tersebut), kata hati merupakan persoalan benar dan salah. Kurasa saat ini pun kau takkan tahu apa yang kumaksud, karena bukanlah perkataanku yang dapat membuatmu mengerti namun kata hatimu sendiri lah yang akan membuatmu mengerti hingga pada saatnya kau akan memahami apa yang kumaksud kali ini... Semoga

Selasa, 03 Desember 2013

Didalam Dua Dunia

Baru beberapa menit yang lalu aku mengalami sesuatu yang mengherankan. Secara tiba-tiba ketika aku berjalan di lorong depan kamarku, aku seperti terhisap secara cepat ke mesin waktu. Gambaran cepat begitu nyata akan apa yang kulakukan hari ini. Diantara dua dunia.

Tergambar jelas tadi pagi ketika aku pindah-pindah bis dan kereta untuk menuju suatu tempat pada pagi buta. Bagaimana aku menunggu bis dalam kedinginan suhu dibawah nol derajat celcius. Bagaimana aku menaiki hingga pemberhentian selanjutnya dan berganti kereta bawah tanah. Hingga bagaimana aku berjalan kaki menyusuri jalan-jalan yang licin sisa dari pertarungan air dan udara. Entah bagaimana semuanya tergambar secara cepat dalam hitungan detik. Dan tiba-tiba aku serasa tak tahu ada dimana...

Aku sadar saat ini sudah kembali berjalan di lorong. Dan beberapa langkah kemudian..

Aku kembali terhisap dalam beberapa minggu yang lalu, saat aku menaiki pesawat untuk menjelajah ke negeri yang aku sendiri tak tahu bagaimana bentuknya. Untuk kemudian menunggu dan berganti dengan pesawat yang lainnya. Lama sekali kurasa perjalanan setengah dunia ku kali ini. Perjalanan yang saat itu tak sanggup kubayangkan. Ini bukan perjalanan ke daerah-daerah, seperti yang biasa kulakukan sendirian. Saat itu aku percaya bahwa perjalanan panjang itu akan membawa perubahan besar bagiku. Ya, percaya...

Kembali gambaran perjalananku itu tergambar jelas dalam sekian detik dan membawaku lupa akan dimana aku berpijak sesaat. Sepersekian detik aku menjadi linglung dan tak tahu dimana aku berada.

Dalam beberapa langkah aku masih 'terhilang' dalam pencabutan roh-ku. Ya, kali ini aku seperti tercabut roh dari badanku. Aku merasakannya.

Sesaat sebelum kubuka pintu kamarku, aku tersadar dan kembali teringat dimana aku berada saat ini. Keberadaanku yang telah jauh dari yang selama ini kualami. Meski selalu berada dalam mimpiku pada waktu lalu, namun kenyataan saat ini adalah buah dari mimpi masa lalu.

Aku kembali diingatkan bahwa keberadaanku saat ini bukan hanya milik-ku semata. Bukanlah badan yang diutus pergi namun roh-ku, yang terus percaya bahwa tiap mimpi pasti akan terwujud, juga turut beserta denganku. Bukan hanya usaha yang kuperlu, namun juga harapan. Dua dunia yang terus membayangiku. Namun kurasa, kali ini aku hidup bukan diantara dua dunia lagi tetapi aku seperti berada didalam dua dunia itu.

Jangankan perjalanan mengelilingi dunia, tiap langkahku pun telah diatur. Kupercaya..

Jumat, 23 Agustus 2013

pejam

bicaralah pada dirimu
bukan dirimu yang berada di kantor
bukan pula dirimua saat bersama kawanmu
dirimu disaat seperti ini, saat sendiri

kau adalah dirimu
ketika mampu mendengar suara denyutmu
atau hembusan nafasmu
dan menyadari bahwa kau hanya sesuatu

sosok hina yang selalu hilang
tenggelam dalam gelapnya dunia
dunia yang hanya bertopeng tawa
namun penuh hina dina papa nista

yang menakutkan adalah
sekalipun ketika kau menyadarinya
kau tak dapat berbuat apa-apa
hanya melihat merasa dan seolah hanya menerima

saat dimana kesendirian adalah ilusi
hanya kondisi semu yang meliputimu
sambil menertawakan tingkahmu
yang tak tahu dimana kau berada

cukuplah terpejam, saudara
waktu kau melihat hitam dalam kelopakmu
dan mulai berkata
berbicara pada dirimu

kau tak sendiri..