Selasa, 03 Desember 2013

Didalam Dua Dunia

Baru beberapa menit yang lalu aku mengalami sesuatu yang mengherankan. Secara tiba-tiba ketika aku berjalan di lorong depan kamarku, aku seperti terhisap secara cepat ke mesin waktu. Gambaran cepat begitu nyata akan apa yang kulakukan hari ini. Diantara dua dunia.

Tergambar jelas tadi pagi ketika aku pindah-pindah bis dan kereta untuk menuju suatu tempat pada pagi buta. Bagaimana aku menunggu bis dalam kedinginan suhu dibawah nol derajat celcius. Bagaimana aku menaiki hingga pemberhentian selanjutnya dan berganti kereta bawah tanah. Hingga bagaimana aku berjalan kaki menyusuri jalan-jalan yang licin sisa dari pertarungan air dan udara. Entah bagaimana semuanya tergambar secara cepat dalam hitungan detik. Dan tiba-tiba aku serasa tak tahu ada dimana...

Aku sadar saat ini sudah kembali berjalan di lorong. Dan beberapa langkah kemudian..

Aku kembali terhisap dalam beberapa minggu yang lalu, saat aku menaiki pesawat untuk menjelajah ke negeri yang aku sendiri tak tahu bagaimana bentuknya. Untuk kemudian menunggu dan berganti dengan pesawat yang lainnya. Lama sekali kurasa perjalanan setengah dunia ku kali ini. Perjalanan yang saat itu tak sanggup kubayangkan. Ini bukan perjalanan ke daerah-daerah, seperti yang biasa kulakukan sendirian. Saat itu aku percaya bahwa perjalanan panjang itu akan membawa perubahan besar bagiku. Ya, percaya...

Kembali gambaran perjalananku itu tergambar jelas dalam sekian detik dan membawaku lupa akan dimana aku berpijak sesaat. Sepersekian detik aku menjadi linglung dan tak tahu dimana aku berada.

Dalam beberapa langkah aku masih 'terhilang' dalam pencabutan roh-ku. Ya, kali ini aku seperti tercabut roh dari badanku. Aku merasakannya.

Sesaat sebelum kubuka pintu kamarku, aku tersadar dan kembali teringat dimana aku berada saat ini. Keberadaanku yang telah jauh dari yang selama ini kualami. Meski selalu berada dalam mimpiku pada waktu lalu, namun kenyataan saat ini adalah buah dari mimpi masa lalu.

Aku kembali diingatkan bahwa keberadaanku saat ini bukan hanya milik-ku semata. Bukanlah badan yang diutus pergi namun roh-ku, yang terus percaya bahwa tiap mimpi pasti akan terwujud, juga turut beserta denganku. Bukan hanya usaha yang kuperlu, namun juga harapan. Dua dunia yang terus membayangiku. Namun kurasa, kali ini aku hidup bukan diantara dua dunia lagi tetapi aku seperti berada didalam dua dunia itu.

Jangankan perjalanan mengelilingi dunia, tiap langkahku pun telah diatur. Kupercaya..

Jumat, 23 Agustus 2013

pejam

bicaralah pada dirimu
bukan dirimu yang berada di kantor
bukan pula dirimua saat bersama kawanmu
dirimu disaat seperti ini, saat sendiri

kau adalah dirimu
ketika mampu mendengar suara denyutmu
atau hembusan nafasmu
dan menyadari bahwa kau hanya sesuatu

sosok hina yang selalu hilang
tenggelam dalam gelapnya dunia
dunia yang hanya bertopeng tawa
namun penuh hina dina papa nista

yang menakutkan adalah
sekalipun ketika kau menyadarinya
kau tak dapat berbuat apa-apa
hanya melihat merasa dan seolah hanya menerima

saat dimana kesendirian adalah ilusi
hanya kondisi semu yang meliputimu
sambil menertawakan tingkahmu
yang tak tahu dimana kau berada

cukuplah terpejam, saudara
waktu kau melihat hitam dalam kelopakmu
dan mulai berkata
berbicara pada dirimu

kau tak sendiri..

Jumat, 26 Juli 2013

Kemewahan Diantara Telapak Tangan

Baru saja pelayan kafe ini pergi setelah memberikan menu kepadaku, dia datang dengan muka berserinya. Sedikit terlambat namun tak menyurutkan hasratku untuk melihat wajah yang sudah tiga minggu ini tak kujumpai. Bibir tipisnya tersenyum hangat seolah tak terjadi apapun selama kami tak bersama. Bukan hanya aku saja, menurut kawan-kawannya pun, dia memang wanita yang kuat berpendirian. Bukan pembenaran, namun tampaknya hal itu yang membuat aku tertarik kepadanya. Sangat sulit buatku menemukan patner yang sangat cerdas dan bisa diskusi denganku seolah tak ada waktu yang menghentikan. Aku selalu ingat hembusan nafas panjangnya tiap selesai mengucapkan pandangan dia terhadap lingkungan sekitarnya. Hembusan nafas seolah-olah sinis terhadap penyelewengan manusia akan kodratnya, manusia yang menutup mata akan kebenaran dan ketidakmauan belajar dari hidup.

Kali ini hembusan nafasnya kembali terdengar tepat ketika dia telah duduk dihadapanku. Aku tahu bahwa dikondisi seperti ini adalah waktu yang tepat untuk dia mengeluarkan rokok putih kesukaannya dan menghisapnya dalam-dalam, meski urung dilakukannya. Buat kami, merokok hanya salah satu sarana melepaskan emosi. Dalam beberapa waktu yang lalu, ujung diskusi kami soal rokok pun seperti telah berhenti pada satu titik temu. Banyak sarana melepaskan emosi dan rokok adalah satu yang kami sukai, dan itu berarti bahwa rokok bukan menjadi satu-satunya keharusan. Sangat tidak masuk akal buat kami ketika ketergantungan terhadap sebatang tembakau dan cengkeh yang nikmat. Itu juga yang mungkin membuat kami hidup bersama seperti saat ini, hidup dan berhubungan tanpa ada ketergantungan yang sangat satu sama lain. Kami menikmatinya.

Terekam jelas di ingatanku awal mula kami sama-sama menyatakan bahwa tidak tergantung terhadap benda apapun. Dalam satu restoran makanan negeri sakura itu kami membahas keinginan dan mimpi kami. Mimpi besar dua anak muda dari beribu mimpi di negeri ini. Keinginan mendalam bahwa tak ada yang dapat menghalangi kami untuk menggapainya. Sudah menjadi barang langka di generasi ini bahwa anak muda dapat sukses dalam mendapatkan apa yang ada di angannya tanpa terlarut dalam kehidupan gila ini. Kehidupan gila yang seolah menghapus kata idealisme dan digantikan dengan nilai-nilai konyol yang ada di masyarakat. Entah apapun itu, apakah uang, jabatan, atau kekuasaan (menguasai manusia lainnya); itulah yang kami pandang sebagai nilai konyol berkehidupan. Nilai yang dipakai untuk memandang manusia lainnya dan terlebih lagi hidup untuk mengejar nilai itu. Mungkin memang ada sinisme dalam perbincangan kami. Sinis yang cenderung menertawakan kelakuan banyak anak muda yang tak memiliki arah dalam hidup. Banyak diantara kawan kami yang menganggap bahwa arah hidup ditentukan pada saat selesai menempuh kuliah dan tak tahu kemana setalah itu, sehingga hidupnya yang telah ditentukan saat masuk ke dunia teknik pun digadaikan ke dunia lain yang lebih terang benderang persoal gaji dan kemewahan, terlebih dunia perbankan (keuangan, finansial, moneter) yang dulu mereka anggap sebelah mata sewaktu sekolah menengah. Sementara kami menertawakan kehidupan macam itu, terselip niatan kami untuk tidak terjerumus terhadap kehidupan konyol macam itu. Kami masih mempunyai mimpi yang sama dengan mimpi saat kami ingin masuk ke jurusan teknik tertua di kampus kami. Sedikit banyak itulah cara kami untuk hidup mengambil konsekuensi pilihan kami dan hidup sesuai keinginan kami. Kemewahan kami terletak pada pikiran dan hati kami. Dan semenjak itu kami tahu bahwa untuk mendapatkannya, kami harus terus berjuang dan tak bergantung pada satu apapun. Perjuangan terletak pada diri kami dan diantara kedua telapak tangan kami yang terlipat untuk restu semesta.

Pertemuan terakhir tiga minggu yang lalu pun seolah-olah menjadi peristiwa yang berat bagi kami. Hari besar dimana dia telah selesai menempuh jenjang pendidikannya. Saat itu kami berpikir bahwa kami takkan bertemu lagi. Dia tetap akan di kota ini untuk bekerja namun disaat yang bersamaan aku tahu bahwa aku harus meninggalkannya bersama dengan kota yang penuh dengan kenangan ini. Ketika itupun rasa sedih sedikit tersirat diantara gembiranya menyambut hari besar nya. Kedatangannya kali ini pun menjadi harga mati dari perpisahan kami. Entah untuk berapa lama kami takkan bertemu namun aku harap di tangan indah itulah masa depan akan bersama kami.

Kamis, 18 Juli 2013

Manusia Tanpa (Peduli) Kelamin

Sedari kecil kita, setidaknya saya, sudah paham cerita tentang awal mula kehidupan. Dimana Adam hidup berpasangan dengan Hawa. Manusia pertama yang seorang laki-laki terlihat tidak baik kalau sendirian sehingga disandingkanlah dia dengan seorang perempuan yang sepadan. Manusia pertama yang berpasangan dengan pasangan yang diberikan penciptanya supaya mereka akan menjadi lebih baik, di mata sang pencipta. Semenjak mendengar cerita itu pula, sepertinya telah tertanam dalam hidup saya bahwa manusia diciptakan berpasangan, laki-laki dengan perempuan. Setidaknya sampai sekarang pun saya masih percaya.

Namun percaya bahwa penciptaan manusia secara berpasangan pun bukan berarti menjadikan berpasangan itu sebagai tujuan kita hidup. Bukan berarti kita hidup hanya untuk berpasangan saja. Entah mengapa, sebagian dari kita justru mematok bahwa milestone berpasangan itu menjadi kehidupan kita yang sebenarnya, kehidupan yang baru. Lihat saja ketika ada keluarga atau kawan yang menikah, pasti banyak ucapak pernikahan dengan kata-kata 'menempuh hidup baru'. Yang jadi pertanyaan, kehidupan baru macam apa sih yang akan dijalani? Kehidupan yang membosankan ketika sudah merasa memiliki pasangannya atau kehidupan yang menarik ketika semakin mengenal pasangannya, tentu dengan segala konsekuensi dari kata 'pasangan' seperti keluarga besar, pergaulan, budaya dll.

Ketika menginjak 'masa kawin', saat dimana umur kita (menurut pendapat umum sekitar kita) sudah menginjak waktu untuk menikah, pasti ada saja pertanyaan seperti
"Hai, a. Udah ada pacar belum? Kapan nikah?". Biasanya diajukan oleh temen atau kerabat yang sudah menikah.
"Kamu itu jangan mikirin karir terus. Buruan nikah lah, ntar keburu tua lho." Tante-tante temen mama yang ketemu saat liburan. Biasanya dijawab dengan senyuman, belum pernah dijawab dengan "Oiya, Tante. Anak Tante masih single?"
"Lo kapan nikah oi?! Keburu busuk menggantung tuh.. Hahaha.." Yang biasanya berani kaya gini sih pasti sohib bangsat yang sudah terjerumus dalam lembaga pernikahan. Suruh buruan kita nikah biar dia ada temen senasib.
Meski tahu niat mereka sebenarnya baik, namun sepertinya sedikit rumit ketika akan menjelaskan ketika belum ada pikiran untuk nikah sama sekali.

Setali tiga uang, ketika berteman pun terkadang sudah menjadi terdakwa. Saat baru berkenalan dengan orang baru seperti sudah terpatri di benak mereka seolah-olah mengenalnya hanya untuk memacari yang kemudian dilanjutkan dengan menikahi atau bercinta dengannya. Terlebih ketika berkenalan dengan sosok yang perbedaan umurnya agak jauh. Resmi itu, meski otak kita lurus-lurus aja, bisa jadi otak mereka udah aneh-aneh prasangkanya.

Memilih untuk belum menikah bukan berarti tidak akan menikah, kan? Kalau sampai saat ini tidak mempunyai niat untuk menikah bukan juga perlu dikasihani atau perlu dihakimi. Bahwa ada laki-laki dan perempuan pun benar adanya, namun tidaklah salah ketika pandangan saya masih berputar soal manusia, tanpa peduli kelamin mereka. Saat terindah adalah ketika kita bisa berbincang banyak dengan manusia lain tanpa ada motivasi tertentu. Hanya untuk berbincang, hanya untuk bertukar pikiran, hanya untuk menjalin persahabatan; dengan melihat sosok manusia nya saja.

Senin, 08 Oktober 2012

Nikmatilah Akuarium Kesendirianmu

Beliau masih belum bergerak dihadapanku. Sudah dua jam lamanya aku datang ke rumah ini dan berbincang dengannya. Lama tak kukunjungi Akung-ku satu ini, semenjak aku pergi belajar ke luar negeri atas perintahnya juga. Kali ini aku datang karena rasa rinduku untuk menatap wajahnya yang selalu tersenyum. Ah, mungkin itu hanya pembenaran karena sebenarnya, jauh didalam lubuk hatiku, saat ini aku sangat membutuhkan sedikit kata-katanya yang selalu bermakna untuk diriku.

Tetapi sudah 10 menit dia terdiam sambil menatap hamparan taman dan suara gemercik air, seolah dia memberiku waktu untuk mencerna ucapannya tadi. Perkataannya tentang hidup, tentang belajar, juga tentang keluarga ini.

"Memang terkadang kita hidup seolah sendiri", tiba-tiba dia berbicara. Matanya masih memandang ujung jauh taman rumah ini.

Aku menatapnya. Terdiam. Bukan kali ini saja aku terhenyak mendengar ucapannya yang tiba-tiba. Ucapannya yang membuatku merasa bahwa dia sedang membaca pikiranku. Dan kali ini pun sama.

"Banyak kawan, banyak sahabat, banyak saudara juga keluarga; namun kita merasa sendiri. Sepertinya semua yang ada di sekitar kita sedang dipisahkan oleh dinding kaca dengan diri kita." lanjutnya.

"Apakah Akung pernah mengalaminya?", ujarku cepat seolah tak mau aku kecolongan kalau-kalau pertanyaan itu dipertanyakan terlebih dahulu kepadaku.

..

"Sampai sekarang. Buat Akung, hal itu pasti selalu terjadi di sepanjang hidup kita. Memang tidak setiap waktu kita merasa terpisah dengan lingkungan namun harus ada satu waktu dalam hidup kita untuk kita bisa sendiri, dipisahkan dari dunia ini dan memahami kembali semua yang terjadi di dalam hidup kita. Memanfaatkan waktu sejenak untuk berada dalam 'akuarium' diri kita dan melihat apakah diri kita sedang di tempat yang benar. Tempat dimana seharusnya kita berada."

"Akung menikmati itu?"

"Ya. Harus."
"Kalau kamu tidak menikmatinya, pasti ada yang salah dengan keberadaanmu dan apa yang sedang kau lakukan."

Aku sejenak terdiam..
"Akung percaya dengan persaudaraan, persahabatan, dan cinta?"

"Tidak semua orang mendapatkan ketiganya itu. Akung yakin kamu pasti percaya ketiganya itu dan Akung pun begitu. Akung punya keluarga, punya saudara yang selalu mendukung dan ada. Akung banyak teman, banyak sahabat, bahkan beberapa diantaranya sudah seperti saudara. Dan Akung juga punya satu cinta."
..
"Buat Akung, ketiganya punya peran masing-masing. Akung punya keluarga dan saudara yang tak pernah Akung tinggalkan dan meninggalkan Akung. Akung punya banyak teman yang tak pernah ada habisnya di sepanjang hidup dan banyak diantaranya adalah teman dekat Akung hingga saat ini. Akung punya sahabat-sahabat dan beberapa diantaranya bahkan seperti saudara karena tak pernah ada khianat diantara kami. Sebagian besar memang akung-akung yang pernah kamu kenal, Akung hanya punya sedikit teman wanita yang menjadi seperti saudara karena Akung berpikiran bahwa tidak ada sahabat wanita, yang ada hanya teman wanita dan saudara. Terlebih setelah Akung mendapatkan Abo-mu yang menjadi satu-satunya cinta yang harus dimiliki. Namun terlebih dari ketiganya itu; diatas dari persaudaraan, persahabatan, dan cinta; masih ada satu tingkatan paling atas yaitu kasih. Akung bersyukur diberi kesempatan untuk mengenal dan percaya pada yang namanya kasih dalam hidup Akung."

"Akung beruntung telah mendapatkan pengalaman dapat mempercayai semuanya itu dan Akung yakin kamu pasti akan memperoleh 'gift' itu seperti Akung. Kalau ada saat kamu bingung oleh kesemuanya itu, janganlah takut dan ragu, yang kamu perlukan hanya terdiam dan kembali ke 'akuarium'-mu", ujarnya sambil tersenyum.


Samar-samar aku mendengar alunan musik lawas era Akung-ku, Back At Your Door-nya Maroon 5, dari dalam rumah..
...
All alone with the negligee
That still hangs off of my bed
I keep meaning to give it away
But I just leave it there instead

No need to cry about it
I cannot live without it
Every time I wind up back at your door

Why do you do this to me?
You penetrate right through me
Every time I wind up back at your door
...

Kamis, 02 Agustus 2012

Jika Seandainya Kebetulan Itu Ada, Pasti Tetap Ada Maksud Dibaliknya

Kau tahu bagaimana perasaan seseorang ketika sudah lama tak bertemu dengan orang yang sangat dikaguminya? Bagaimana besarnya keinginan seseorang itu menatap wajahnya dan mendengar setiap kata yang keluar dari mulutnya?

Satu hal yang kuingat bertahun-tahun ketika setiap kata yang terucap darinya selalu membuatku terpana dan tersadarkan dengan segera. Sadar akan apa yang sedang kuhadapi dan harus kulakukan. Sosok yang telah lama tidak kutemui di bangku gereja ini seakan kembali hadir di Minggu sore ini. Meski sore ini sepertinya menjadi sore yang sangat sibuk dan banyak alasan keengganan yang bergelayut untuk mencegahku hadir dalam gedung sakral ini, seperti minggu-minggu sebelumnya, namun kali ini tetap saja langkah kakiku tetap berpacu dan membawaku hadir dalam ruangan gereja ini...

Kali ini kursi paling ujung di ruangan ini menjadi temanku. Dialah yang satu-satunya kosong, seakan menunggu kehadiranku yang sering melupakannya. Aku duduk tepat ketika sosok itu berdiri di mimbar yang sangat jauh dariku. Aku langsung mengenalinya dari paras dan tubuhnya yang semakin menua, yang seakan membuatnya semakin berkuasa atas tempatnya berdiri. Ya, saat inilah kurasakan kantuk yang menghampiriku semenjak beberapa jam yang lalu berubah menjadi perasaan rindu yang terobati. Aku bertemu dengannya setelah sekian lama.

Seketika aku terdiam ketika dia mulai mengucapkan kata demi kata. Diam, karena dalam hening itu aku dapat bersiap untuk menerima setiap katanya, setiap arti di dalamnya dan setiap maksudnya. Karena ketika dia berbicara, kursi yang berjarak paling jauh dari mimbar tempat dia berdiripun seakan tiada artinya, seakan kau berdiri dihadapannya, muka bertemu muka, mata bertemu mata.

'Hai! Kita bukan orang yang mencari jatidiri, jatidiri kita jelas! Kita anak Allah! Jadi lakukanlah segalanya sesuai dengan jatidiri kita itu! Kau punya kejujuran, integritas, lakukanlah itu!'
'Kau hidup dengan iman! Iman seperti apa!? Kau percaya, pikullah salib! Dan tempat dimana Tuhan beri kita talenta adalah tempat yang paling penuh cobaan. Itulah iman!'
'Ketika kau dipanggil dan ditempatkan, terkadang kau tidak akan menjadi diri sendiri. Kau dibentuk seperti yang Tuhan mau.'
'Dimanapun kau berada, kau tidak akan ada artinya ketika kau tidak melayani dan menomorsatukan Tuhan'

Ya. Siapapun pasti terguncang ketika kau mendapat jawaban atas segala pertanyaan yang kau ucapkan dalam kesendirianmu.
Kuhampiri dia ketika kebaktian selesai. Kujabat erat tangannya dan terbalaskan bak sepasang sahabat. Dalam bincang-bincang singkat itupun, kuutarakan sedikit rencana di benakku. Dan sekali lagi jawaban sekaligus pesan darinya membuatku semakin terguncang. 'Ya, belajarlah kau dengan benar, jangan lakukan karena gengsi.'

Dalam pelarian pulangku, kusimpan kalimat-kalimat yang disampaikannya dan mencoba memahami maksudnya lebih lagi. Inikah yang disebut dengan dua jam yang kebetulan? Kebetulan-kebetulan yang kebetulan? Aku percaya kebetulan itu tidak ada. Karena jikalau kebetulan itu ada, aku tetap mendapatkan apa yang aku cari.


*thanks to ev AR
*thanks to You that besides has brought him to me, You'd take me to You (again).

Sabtu, 16 Juni 2012

Sambutlah Duniamu!!!

Telah cukup masamu dalam kesendirianmu. Kesendirian dalam menuju kedewasaanmu dalam satu dimensi, saatnya kau menuju ke dimensi yang lain. Dimensi dimana kau akan mendapat hubungan baru akan sesamamu dan melewatinya dengan sekejap. Ya, sekejap ketika kau akan mengerti dimensi sekejap ini akan berpindah ke dimensi yang baka, dimensi terakhir itulah yang sedang aku gapai saat ini. Kau akan mengerti saat kau disini nanti, beberapa saat lagi.

Bersyukurlah senantiasa karena kau akan berada dalam satu kuasa yang akan membuatmu memahami arti dirimu sebenarnya. Kau takkan menyesal berada disini, karena untuk suatu tujuan semata kau dihadirkan dalam singkatnya dimensi ini.

Berbahagialah selalu karena kau mendapat sesuatu yang luar biasa. Ketika kau memainkan jari jemarimu, kakimu, tubuhmu, otak kirimu; kau bersukacita akan hal itu. Terlebih, sukacita itu bukan hanya akan hadir dalam hatimu, namun setiap makhluk yang hidup dibawah langit ini akan merasakan hal yang sama. Bukan tanpa sebab hal itu akan terjadi. Ketika kau berseru lirih, bersenandung kecil, berikan nada dalam kata, bahkan berseru Haleluya sekalipun; kau akan merasakan hal yang berbeda, rasa dimana damai itu ada, damai untukmu, untuk kami, dan untuk seluruh makhluk.

Maka jangan biarkan lelah mengikutimu, jangan biarkan dunia meracunimu. Bukan hal baru bahwa dunia ini gelap. Selalu ingatlah bahwa gelap hanya ketiadaan dari terang.

Segera kemarilah! Keluarlah dari dimensimu dan berteriaklah bersama kami!! Teriakkan seruan kemenangan dan  yang berketetapan tunggal!!
Ayo, Flo!! Sambutlah duniamu!!!