Senin, 25 Juli 2016

Hujan Jakarta Pagi Ini

Kupikir akan ada cerita. Cerita tentang apa yang terjadi. Bukannya aku tak mau, namun kupikir bukanlah tepat jika aku yang memulai..


Hai, Jakarta.
Kukira hari ini kau akan terik seperti biasanya. Kota yang panas dan gersang dimana-mana. Namun musim kemarau yang seharusnya hadir bulan ini seolah mengerti bahwa bulan ini akan ada air mata. Entah air mata bahagia atau kesedihan, aku tak tahu.

Dua cerita pada purnama yang lalu menghardikku. Mereka berdua mempunyai cerita yang sama meski berbeda waktu. Pengakuan yang mengagetkanku. Inilah mimpi kelam yang membuatku tak percaya bahwa bumi yang kupijak saat ini adalah bumi yang sama ketika aku mendengarnya. Aku seharusnya tak boleh merasa berlebihan. Bukankah beliau telah memberitahukanku pada waktu-waktu sebelumnya, bahwa dia akan mengalaminya.

Aku tak tahu apa yang dia alami. Cerita yang kutunggu dari mulutnya pun tak kunjung keluar. Aku ada pesan untuknya. Namun, pantaskah kusampaikan pesan itu padahal aku tak tahu di balik peristiwanya. Bagiku itu tak adil meski aku tahu pesan harus kusampaikan. Telah kutuliskan pada prasasti masa kini, yang kelak aku yakin akan mereka baca. Semoga.
(Semoga engkau juga menerima caraku menyampaikan pesanmu ini)

Gerimis datang tepat saat kutinggalkan kota ini. Aku hanya berharap bahwa ini bukan tetesan kesedihan. Pasti ada sukacita di tiap peristiwa, bagi mereka yang percaya. Aku percaya. Aku takkan meninggalkanmu, kawan..

Selamat tinggal hujan Jakarta pagi ini!


Jakarta, 20 Juli 2016

Senin, 18 Juli 2016

Gerhana Malam Ini

Terang tak tampak malam ini
Udara dan tiupan angin tak mampu atasi resah dalam dadaku
Hanya langit gelap yang menghubungkan jarak
Sejauh itu kah Delft malam ini?

Lima dadu bertarung angka
Tak satu pun mampu menghilangkanmu
Sangkal diriku selalu berujung sepi
Entah ini suatu kebodohan atau definisi dari perjuangan

Semburat sinar dari sekelilingmu
Ketika sang batara kala hadir dan menampakkan diri
Aku ingin melihatmu, meski terhalang dunia ini
Masih mampukah itu terjadi?

Jika Tuhan mengijinkan bahwa bukan hanya Rangga dan Cinta
Tentu aku ingin kisah yang sama
Kisah yang bukan hanya di dalam doa
Namun hingga janji yang terucap hingga mati nanti

Rabu, 25 Mei 2016

Di Manakah Tuan Institusi Berada?

Pemberia gelar Honoris Causa memang hak yang dimiliki oleh universitas. Terlepas bagaimana status yang disandang oleh universitas, gelar yang diberikan tetap menjadi gelar kehormatan akademik yang diberikan kepada tokoh yang dipandang mempunyai peran besar bagi bangsa dan negara. Tak terkecuali, pemberian gelar HC kepada dua presiden periode yang lalu oleh dua kampus besar di Bandung.

Ketika pemberian gelar kepada Presiden ke-6 oleh ITB, banyak mata yang melihat ragu dan dahi mengkerut. Spanduk yang berisi pengumuman acara sebesar itu hanya terpasang sehari sebelum acara. Telinga-telinga kampus pun banyak yang mendengar suara miring dari peristiwa besar ini. Apa mau dikata, dua periode beliau berkuasa, pucuk-pucuk pimpinan kampus seolah menikmati peran dalam dunia pemerintahan, kalau tak mau dibilang dunia politik. Apakah itu menjadi bagian besar dari acara pemberian gelar? Barang tentu kita bisa melihat track record bagaimana tirani dua periode menguasi kampus ini. Bagaimana penentuan kebijakan kampus berhubungan dengan kebijakan pemerintah. Ya, memang kampus memang menjadi bagian dari kementerian yang berada dalam wilayah pemerintahan. Namun, tidak adakah pertanyaan yang terlintas apakah itu yang seharusnya menjadi sikap suatu institusi pendidikan. Institusi yang didalamnya kehormatan akademik seharusnya menjadi tonggak utama. Tonggak yang seolah berbicara bahwa kebenaran akademik boleh selalu diperbarui namun tidak boleh dibohongi.

Ketika pemberian gelar oleh Unpad kepada Presiden ke-5, inipun mengundang tidak sedikit pertanyaan. Berita sudah tercium, bahkan oleh media, semenjak beberapa minggu sebelumnya. Namun, suara-suara hati dari dinding kampus pun banyak yang berteriak. Bagaimana seorang tokoh yang pernah 'dikeluarkan' dari sebuah universitas dapat menerima gelar kehormatan tinggi dari universitas yang sama. Ketika pada jaman itu, beliau dikeluarkan oleh pihak kampus karena kuasa seorang ayah yang diturunkan secara paksa, maka bolehkah kita menilai dimanakah perlindungan sebuah institusi pendidikan terhadap keberpihakan seorang mahasiswa? Ya, memang intervensi besar diterima oleh kampus tersebut, namun bukankah saudara besarnya dapat sedikit dilindungi oleh kampus biru diseberangnya. Dan ketika saat ini, beliau menerima gelar kehormatan akademik tertinggi oleh universitas yang sama karena kiprah puluhan tahun yang memang dapat dirasakan oleh rakyat, bolehkah tetap ada pertanyaan mengapa pemberian gelar tersebut diberikan ketika beliau menjadi penguasa kembali, ketika menjadi pucuk pimpinan dari partai penguasa dan presiden saat ini. Bolehkah ada pertanyaan bagaimana institusi pendidikan bukan hanya menjilat masa lalunya sendiri namun juga menjilat penguasa negeri ini?

Bukanlah ada tersirat untuk meragukan kedua pemimpin negara tersebut. Keduanya telah terbukti dalam memerintah pemerintahan dan negara ini sesuai dengan caranya masing-masing. Serta pula telah terbukti menyatukan rakyat melalui demokrasi melalui definisi mereka sendiri pula.
Yang menjadi pertanyaan bukan kapasitas kedua tokoh besar tersebut yang diragukan, namun mengapa institusi pendidikan bukan menjadi goa suci yang didalamnya tersimpan kebenaran yang akan terus-menerus digali, kawah candradimuka dimana menjadi tempat tertinggi menggapai mimpi melalui perjuangan diri. Mengapa institusi penjunjung tinggi kebenaran dan kehormatan seolah-olah turut serta menjadi bagian dari para penjilat sang penguasa negeri, bukan menjadi tokoh terdepan penyuara hati rakyat melalui kebenaran akademik yang dianutnya? Jadi, dimanakah tuan institusi itu sesungguhnya harus berada?

Masihkah kita boleh bertanya demikian?

Selasa, 29 Maret 2016

Untuk Seseorang Di Sana

"Sudahkah terlalu lama kita berdiam?
Katamu akan hilang itu semua kelam
Namun tampaknya lukanya terlalu dalam
Padahal yang kau inginkan kenyamanan yang tak bermacam-macam
..."

Hening kemudian.

Ketika kau turun dari panggung, baru tepuk tangan kecil mengiringmu. Penonton tampaknya tak sadar bahwa bacaanmu telah selesai. Atau mungkin mereka menginginkan akhir cerita yang indah. Barangkali itu juga keinginanmu, namun apa daya.

Segelas air mineral menunggumu. Ya, sejak pertama kukenal kau seperti jatuh cinta pada minuman tak berasa itu.
Lelah seolah menghampirimu tiba-tiba. Wajahmu menjadi sangat berbeda dengan wajahmu saat kau berada di panggung tadi. Rangkaian kata selalu membuatmu memasuki dunia lain, seolah menyuntikkan mantra yang penuh dengan semangat dan kekuatan dari dunia yang tak pernah dilihat oleh manusia lainnya.

"Minumlah.."
Dalam sekejap segelas air dihadapanku berpindah ke kerongkonganmu yang putih dan selalu mempesona pria manapun.

"Kau bahkan tak menyapa dan menanyakan kabarku.", katamu sambil menuangkan kembali air ke dalam gelas.
Aku terdiam.
"Kau hanya menyuruh apa yang sebenarnya ingin kulakukan. Aku haus, kau menyuruhku minum. Aku lelah, kau sediakan kursi untukku. Aku rindu, kau hadir di depan mataku. Tapi mengapa kau tak pernah menyapaku? Tidakkah kau tahu itukah yang kuinginkan?"

Aku hanya tersenyum kecil.

"Mengapa kau kemari? Bukankah kau pernah berjanji bahwa takkan pernah hadir kembali? Oh iya, aku lupa, kau seringkali mengingkari apa yang kau katakan. Mengingkari karena yang kau katakan sebenarnya kebohongan. Tapi mengapa setiap kata bohongmu selalu diikuti dengan sinyal yang memberitahuku bahwa itu kebohongan. Itukah yang sebenarnya ingin kau katakan padaku?"

"Bicaralah!! Jangan kau hanya menjadi singa di tempat lain tapi menjadi pengecut di depanku. Bukankah kau yang selalu bilang bahwa manusia selalu harus bersuara. Manusia hanya boleh diam ketika menikmati hidup, bukan ketika dilahap oleh kehidupan dunia. Manusia sejatinya harus bersuara karena suara lah yang memberikan makna. Makna lah yang dapat memberikan jawaban atas setiap pertanyaan dalam hidup. Atau sudah lupakah kau atas ucapanmu sendiri?"

"Minumlah.."
"Hentikan! Aku tak mau kata itu keluar lagi. Jangan kau seolah terus-menerus membaca apa isi otakku. Aku tak mau mendengar apa yang ingin kulakukan."
Kau ambil kembali gelas itu dan kau minum perlahan-lahan. Tak berapa lama, kudengar irama nafasmu yang sudah sudah tenang.

Kuraih tangan kecilmu. Kuusap punggung tanganmu yang halus seperti sutera. Kutatap matamu dalam-dalam..
"Masih sederhanakah hidupmu?"

"Ingatlah bahwa aku masih berjalan dalam jalan yang sama. Aku tak pernah berubah. Ya, berubah itu pasti. Namun perubahanku adalah perubahan yang mengubah sekitarku, bukan sekitar yang mengubahku."
"Ketika haus, minumlah. Ketika lelah, duduklah. Ketika kau ingin berteriak, kau harus. Masih sesederhana itukah hidupmu? Atau serumit itukah rindumu? Sehingga menghalangi setiap keinginanmu? Sapa lah ketika rindu."

"Karena aku juga menginginkannya", kataku dalam hati seraya melangkah pergi.

Kamis, 31 Desember 2015

Aku Ingin Tidur

Bukan yang pertama perasaan sepi ini datang. Bahkan, yang kuingat, beberapa tahun belakangan ini sudah seringkali hadir. Tepat tahun lalu seperti menjadi salah satu piuncak tertingginya, bahkan hingga mnembuat terngiang-ngiang jelas perasaan itu di ingatanku. Perasaan sepi ketika sedang musim dingin di negara orang dimana terang hanya muncul kurang dari 8 jam dan itupun seringkali suram. Terlebih saat itu sedang mengerjakan tesis, ngejar deadline di awal tahun, sementara banyak orang sedang menikmati liburannya dan tak banyak yang bisa kau temui. Lengkap sudah itu menjadi salah satu ingatan terburuk saat menimba ilmu kala itu.

Hadirnya kali ini dalam bentuk yang lain, meski tetap saja tampak jelas apa yang dia bawa. Tetap, kesendirrian. Boleh dikatakan sudah sepertiga hidup kujalani dengan sendiri, tanpa ada keluarga. Hidup menjalani hari dan pulang kembali masuk ke kamar kecil untuk kemudian berlanjut menikmati sepimu itu. Meski memang ada banyak sahabat yang mengisi ruangmu, namun kembali ke rumah dan bersama keluarga memang selalu menjadi kenikmatan yang tak ada duanya. Kau harus selalu senang kembali ke rumah.

Kukira dulu memang aku diciptakan sebagai penyendiri yang menikmati sepi dan kesendirian, namun tampaknya tidak. Apa yang kau cari memang harus kau perjuangkan. Ketika kau mendapatkan mimpi dan berjuang untuk mendapatkannya bukan berarti kau harus berjuang dengan kesendirian. Sempat terlintas bahwa jalan selibat akan menuntunku mendapatkan mimpi itu, namun nyatanya bukan itu yang dimau. Mimpi besarmu terkadang terlalu tinggi untuk kau daki sendirian. Perjuanganmu bukan hanya soal ketika kau melipat kedua tanganmu dan berseru, namun juga ketika kau berpegang tangan satu sama lain dan melihat Semesta hadir di dalamnya. Karena ketika dua atau tiga orang berkumpul, Dia kan hadir ditengah-tengahnya. Jelas, ini bukan berbicara mengenai jalan sendiri yang pernah terlintas.

Aku berharap bahwa kali ini aku dapat tidur. Aku ingin tidur dalam tenang supaya dapat dengan hati-hati rusukku terambil. Supaya dapat dengan penuh kelembutan pula terbentuk tulang itu untuk dapat kembali menjadi bagian dari diriku dalam wujud yang serupa denganku. Supaya, kemudian, kami dapat bermimpi bersama, berjuang bersama, berlutut bersama. Ya, kali ini itu pintaku. Bukan karena lelah aku terbangun dan sendiri melihat bagaimana sekitar ini, namun karena aku ingin tidur tenang supaya dapat kembali bangun dan melihat sekitar dengan lebih kuat lagi. Aku ingin tidur.

Kamis, 10 Desember 2015

Apakah Sulit?

Bukankah kau bilang 'hanya' pikul salib?
Aku tahu itu tak mudah
Namun berulang kali aku meminta
Dan kau beri kan ku kekuatan

Rasakan hadiratMu
MengiringMu seumur hidupku
Masuk dalam rencanaMu
Bukahkah itu mauMu?

Aku sadar bahwa hanya didalamMu aku mampu

Kupinta satu kembali kali ini
Ketika itu terhilang
Dan aku tahu ini menyakitkan
Bukan hanya karena dia terhilang
Namun karena kupikir dia adalah janjiMu
dia adalah rencanaMu

Harapanku hanya didalamMu
BersamaMu ku kan teguh
Kali ini aku tertawa
Bukan menertawakanMu
Ijinkanku menertawakan diriku
kehendakku yang barangkali Kau pikir lemah

Jadikanku bejanaMu?
Berulang kali aku mencoba
Gagal
Mencoba
Dan selalu mencoba
Itu yang Kaubilang

Tak mudah
Namun kuminta padaMu untuk
Tenangkan jiwaku
Tenteramkan hatiku

Kali ini..
Dia meminta maaf kepadaku
Serta ucapkan terima kasih kepadaku

Yang kutahu diatas kata maaf ada satu kata
Ampun
Yang kutahu diatas kata terima kasih ada satu kata
Syukur

Pengampunan
dan
Bersyukur

Sesederhana itu dan itu terasa masih sulit bagiku...

Kirimkan kepadaku pertolongan yang Kaubilang sepadan

Minggu, 28 Juni 2015

Halaman Rumah

Kembali ke rumah selalu menjadi momen yang menyenangkan. Seharusnya.

Di tempo lampau, pada sore hari tatkala hujan belum reda sepenuhnya dan kami hendak pergi meninggalkan kampus, beliau juga selalu mengucapkan itu. Penuh sarat, penuh makna. Utamanya ketika obrolan itu tentang hidup.

Dan tetap saja ada waktunya merasakan hal yang tak seharusnya terjadi. Rentang masa ketika kita berada di rumah dimana kita besar namun tak merasakan kembali rasa yang menyenangkan itu.

Sudut-sudut rumah yang penuh kenangan oleh ulah masa kecilmu dan laku tiap wajah yang kau kenal telah hilang entah kemana, semuanya seolah terasa asing bagimu.

Dan ketika pikiranmu yang seolah-olah telah lebih banyak berkembang di luar rumahmu itu kemudian beradu dengan pikiran-pikiran yang kau pandang sempit karena terkungkung dinding rumah.

Pikiran yang terbentuk oleh karena pikiran-pikiran dalam rumah yang mengirimmu untuk mengejar dunia yang penuh warna di luar sana namun kemudian kembali dan tak dapat menyatu.

Dan ketika setiap katamu selalu menjadi bentuk "no, i don't" bagi rupa yang telah melahirkanmu. Dan setiap kata yang keluar darinya seolah dalam bentuk tanda seru dan penuh hardikan bagimu.

Dan kemudian akhir dari pembicaraan selalu tampak kekecewaan dari sorot matanya dan pada akhirnya juga rasa penyesalan darimu.

Meski dalam rasa sesal itu terselip seuntai rasa keyakinan atas kebenaran yang kita anut.

Dan ketika laku tiap sosok yang mengenalmu semenjak kecil juga seolah menjadi sosok yang berbeda ketika mereka merangkulmu dulu. Kesenangan yang sama tak kau dapatkan lagi.

Dan ketika kau diperlakukan bukan lagi menjadi sosok dirimu yang bertumbuh dari atap yang sama namun menjadi sosok tamu asing yang pergi dan pulang dalam hitungan waktu yang tak lama.

Dalam doamu sudah seharusnya kau sebut tiap hal yang terjadi itu.

Ya, bahkan ketika berada di ribuan kilometer jauhnya dari tempat ini. Kuharap doa yang kupanjatkan dulu, kemarin, saat ini, dan esok akan selalu sama.

Ketika kau harapkan bahwa ketika pikiran-pikiran memang akan terus berkembang dan tak lagi sama (takkan pernah sama), maka cinta yang ada di tiap diri akan selalu sama dan semakin membesar.

Dan ketika tak dapat kubagi pikiran yang ada, maka tetap dapat kubagi cinta yang ada ini dengan berbagai bahasanya.

Sekelebat terbayang masa depan. Ingatkan aku ketika dalam cinta yang akan kurajut dalam rumah baruku esok harus selalu ada cinta yang sama juga sebagai dasar untuk bersatu meski tetap berbeda sebagai jarak. Bukankah gedung yang kokoh ditopang oleh pilar yang sama namun mempunyai jarak diantaranya?

Ketika rasa rindumu juga dapat kau antarkan ke masing-masing hati mereka di rumah ini. Untuk kemudian dapat dirajut menjadi sebuah rasa kekeluargaan yang bahagia. Yang olehnya kau mengerti arti seorang manusia dan memahami apa yang harus kau lakukan sebagai seorang manusia.

Dan kemudian dapat berbagi cerita satu sama lain meski tak seluruhnya dapat saling memahami. Tak melarang adalah keindahan terbesar dalam langkah hidupmu meski tetap ada keinginan bahwa dari mulut merekalah akan keluar jawaban atas pertanyaan yang kau cari.

Dan ketika setiap dari kita pergi jauh dengan pikiran yang akan makin berkembang entah kemana akan seolah-olah kita sedang keluar ke halaman depan saja dan sedang melangkahkan kaki ke pintu untuk mengetuknya dan kembali bersama.

Ketika seorang tua mengatakan bahwa rumah adalah dirimu yang membesar, maka doa harapan ini selalu tergantung di langit-langit rumah ini dan menerangi tiap darinya yang berlindung di dalamnya.

Pada saatnya akan selalu menyenangkan kok. Ketika kau mencari, kau akan menemukan. Terkadang, kau pergi jauh hanya untuk menemukan jalan pulang. Dan tak mungkin kan kau tersesat di halam depan rumahmu sendiri :)

Rabu, 04 Maret 2015

A Chance in The Divided City

Hembusan angin keras awal bulan Maret membuatku merapatkan diri ke dinding bangunan tua ini. Kali ini aku sedikit ragu untuk menemuimu di dalam cafe di sisi sungai Spree ini. Memang tak lama kemudian aku masuk dan mendapatimu berada di sisi kaca depan, terlindung kolom beon besar dari arahku datang. Sejenak kuamati engkau dan kupastikan bahwa wajahmu tetap sama seperti dahulu. Tirus ayu dan senyum yang mengembang. Kuingat pernah ada masa-masa di mana senyummu tak mengembang dan bibirmu menguncup seolah penuh gejolak emosi. Itu bukanlah dirimu yang kukenal. Aku mengenalmu sebagai seorang yang penuh tawa meski terkadang di dalamnya tersimpan sebersit duka.

Tak lama setelah kupesan kopi hitam kesukaanku, kudatangi meja di mana kau berada. Kupikir kau akan tahu mengapa kali ini kupesan kopi hitam,bukan cappucino seperti biasanya. Perbincangan mengenai masa lalu akan berat dan kuharap kepahitannya akan dapat digantikan oleh pahitnya segelas kopi hitam.
"Hai. Apa kabar, Ge?", sapaku sambil menghancurkan lamunmu ke arah sungai.
"Hai. Kabarku baik. Kamu bagaimana?"
"Baik. Tetap partikel bebas." jawabku.

Kuharap kau akan ingat bahwa partikel bebas seperti kita, yang mengidam-idamkan kemerdekaan diri dalam pemikiran dan laku, akan tetap menjadi bebas. Kebebasan yang bukan dipahami sendiri atau bersama, namun bebas karena kau tahu bahwa arahmu bukanlah kau yang tentukan namun Semesta yang tentukan. Kuharap kau mengingatnya.

Kau hanya tersenyum tipis. Dari sunggingan senyummu, aku tahu bahwa kau merasa aku menyindirmu karena kejadian waktu itu. Namun, di sisi lain, aku juga yakin bahwa itu juga menandakan bahwa kau masih Ge yang kukenal. Kami adalah partikel yang sama ketika kami bertemu dulu.

Pertemuan awal yang tak ada kesan berarti, namun beberapa saat setelahnya aku sangat sadar bahwa dia sangat mirip denganku. Sangat mirip dalam hal pemikiran, tingkah laku, dan prinsip. Bahkan dalam memandang hidup pun, kuakui bahwa dia sangat mirip denganku. Mungkin itu yang membuatku tertarik dengannya. Kau dapat bayangkan bagaimana kau bertemu dengan dirimu dengan sosok yang berbeda. Kau merasa seolah dapat mengerti apa yang dipikirkannya, apa yang diperjuangkannya,dan bahkan apa yang akan dijawabnya jika orang lain menanyakan sesuatu.

Ketika berbicara mengenai toleransi, kau sangat menyentuhku karena seolah aku merasakan perasaan yang sama ketika melihat manusia lain di sekitar kita. Ketika dalam persoalan kepercayaan kepada Tuhan, aku pun sedikit takjub ketika apa yang kita lakukan dalam beribadah ternyata mempunyai pemaknaan yang sama. Aku menemukan bagaimana pemaknaan yang kudapat tentang Allah juga sesuai dengan apa yang kau jalani. Bahkan, ketika kecenderungan menonton serial film atau buku pun, aku masih tak percaya bahwa kau semirip itu denganku. Aku yang bukannya tak sabar (meskipun iya) tidak dapat menunggu episode selanjutnya tanpa tahu kapan akan tamat. Dalam perenunganku terkadang aku merasa bahwa ini menjadi indikasi sederhana bagaimana aku memandang hidup. Bukan hal yang saklak, namun aku merasa bahwa aku mengetahui bagaimana kisah hidupku akan berakhir. Aku ingin berakhir bersama semesta, tentu aku tak dapat mengetahui secara pasti dalam tiap detail menuju garis akhir itu. Itu mengapa aku merasa perenungan dan pemaknaan kita tentang hidup sangatlah mirip.

--

Hampir setengah gelas sudah kuminum kopi hanta di depanku, kau masih seolah belum masuk ke topik yang kau inginkan. Obrolan yang kau sodorkan masih seputar perbincangan umum dan perkembangan dunia belakangan ini.

Sepertinya kita sama-sama tahu bahwa mau tak mau kita akan masuk ke pembahasan yang karenanya kita bertemu kembali di kota ini.

"Kau tahu, Al. Kalau aku masih seorang gadis kecil, ingin rasanya meminta doraemon untuk bisa kembali ke masa lalu. Terkadang aku membuat keputusan yang sedikit mengecewakan, bukan hanya untuk mereka orang-orang yang kukasihi namun juga untukku sendiri."

"Seandainya waktu itu aku sedikit lebih bijaksana, mungkin aku akan membuat membuka setiap kesempatan yang ada dan meyakinkan diriku bahwa aku akan berada bersama satu dari semua kesempatan yang kubuka. Bukan hidup dengan menentukan kesempatan dan berusaha menjalaninya."

"Namun aku tahu kalau waktu tak dapat berbalik dan diputar kembali. Aku saat ini adalah aku hasil keputusanku masa lalu. Tapi aku juga tahu bahwa pencerahan selalu ada bagi mereka yang mencarinya dan kupikir aku bisa mengucapkannya saat ini karena aku telah menemukannya."

Aku cukup terhenyak dengan rentetan kalimat yang kauucapkan. Kalimat yang penuh makna sekaligus seolah penuh dengan proses tapa brata yang sangat panjang. Aku merasa berada dalam puncak Himalaya yang sunyi dan sepi. Tempat di mana dapat merasakan bagian dari semesta ini. Tempat dimana kau berserah dan mendapatkan. Tempat dimana kau mencari dan menemukan. Tempat dimana kau merasakan kesunyian dirimu dan kau peroleh kemeriahan semesta ada di dalammu.

"Ge, kupikir itu bukan hal yang patut untuk disesali. Keputusan yang kau buat jangan pernah kau sesali meski memang terkadang mengecewakan. Ketika melangkah memang kita akan terjatuh. Namun itu lebih baik daripada kita hanya terdiam dan tak pernah bergerak."

"Aku mengerti bahwa kesempatan harus kita buka. Kupikir, kesempatan mengenalmu adalah anugerah yang indah dalam hidupku. Memang mengecewakan juga bagiku ketika tak lama kemudian anugerah itu kau sendiri yang merenggutnya dariku. Saat itu kupikir tidak adil bahwa kau merenggutnya tanpa mengetahui apa sebenarnya yang kutemukan, bahwa kau sangatlah serupa denganku. Saat itu, sebenarnya, aku hanya ingin kau juga menemukan kalau kau mempunyai sosok yang sama denganmu dalam sosok diriku. Namun apa mau dikata..."

Kuteguk kopiku dalam-dalam. Udara dingin peralihan musim dingin ke musim semi membuat kopi di tanganku mendingin dengan segera tergantikan dengan Americano anyep (dingin air biasa).

"Aku  hanya tak tahu mengapa kau berubah begitu cepat waktu itu. Dalam semalam, kau membuat keputusan yang mengejutkanku. Aku yang belum berbuat apa-apa terpaksa kau singkirkan. Egoku terhasut dan kelelakianku tertantang sehingga apa yang kulakukan pagi harinya membuat semua semakin runyam. Tapi, yah, biarlah semua itu. Semua sudah berlalu dan kupikir saat ini pencerahan sudah menemui kita dan membuat kita berada di tempat ini."

Senyum tipis pun kembali mengembang. Sejenak kau menatap gelas di hadapanmu, kemudian kau kembali berkata,
"Iya. Aku tahu apa yang kulakukan. Oleh karena itu, aku ingin kali ini aku masih dapat membuat keputusan yang berharga dalam hidupku. Aku ingin kembali membuka pintu yang tertutup. Aku ingin kembali mengenal diriku dan memahami semesta ini,bersamamu..."

Aku terdiam. Tak tahu apayang harus kujawab.
Anganku seolah berkata bahwa keinginan yang dulu terpisah kini telah bersatu meski bukan berarti jalan ke depan akan menjadi tanpa hambatan.
Kutatap matamu dalam-dalam dengan berharap kali ini kau dapat memulai menemukan pemikiran kita yang sama. Kuharap kau mendapat jawab melaluinya.

Diujung, kudengar lagu lawas Frank Sinatra yang mengalun pelan.
...
Yes, there were times, I'm sure you knew
When I bit off more than I could chew
But through it all, when there was doubt
I ate it up and spit it out
I faced it all and I stood tall and did it my way

I've loved, I've laughed and cried
I've had my fill, my share of losing
And now, as tears subside, I find it all so amusing
To think I did all that
And may I say, not in a shy way,
"Oh,no, oh,no,not me, I did it my way"

For what is a man, what has he got?
If not himself, then he has naught
To say the things he truly and not the words of one who kneels
The record shows I took the blows and did it my way!



Barangkali itu yang harus kurenungkan.
Kita renungkan...
Tentang sebuah kesempatan.
Dan jalan hidup...

Senin, 02 Maret 2015

Arah

Buyar sedikit lamunanku ketika para pemusik memainkan iramanya di dalam strasse-bahn. Irama yang membuatku mau tak mau sedikit merasakan keriangan yang memang membuat setiap hati bergejolak ketika mendengarnya...

Oh when the saints go marching in
When the saints go marching in
O Lord, I want to be in that number
When the Saints go marching in

Peristiwa kemarin memang membuatku cukup mengejutkan. Hingga saat ini aku masih merasakan seolah-olah semua yang terjadi itu hanya mimpi. Tampaknya aku terlalu mengekspresikannya dengan sangat emosionil. Entah mengapa, mungkin karena memang perasaan yang menjadi sasaran, bukan logika. Kali ini, umur dan masa lalu seolah tak membekas dan terhilang entah kemana. Aku seolah menjadi sosok remaja di Alchemist yang sedang merasakan hembusan angin sorga, jiwa dari Semesta. Seolah hilang jiwa ini mendengar perubahan sikap yang sangat tiba-tiba.

Meninggalkan satu stasiun pusat kota yang hingar bingar, lagu itu pun terbawa pada beberapa baitnya yang penuh gejolak hati akibat kondisi ketidakadilan pada waktu itu. Seolah ingin menggambarkan adanya nuansa protes dalam irama riang, aku pun terjebak dalam nuansa yang sama. Aku tidak percaya bahwa apa yang kuperoleh dalam beberapa hari terakhir akan berujung seperti ini. Aku merasa bodoh.

Ketika yang kau percaya selama ini runtuh maka kau takkan bisa membangunnya kembali dalam sekejap. Kupikir ketika rencana yang diberikan kepadaku telah kujalankan dengan baik dan ketika dahulu kutahu akan bagaimana ending-nya, maka aku sangat yakin bahwa aku harus menjalani perjalanan dan garis akhirnya sesuai dengan apa yang 'kudapat'. Dan ketika seluruh perjalanan sudah kulalui, tikungan terakhir mengatakan bahwa garis akhir yang harus kujalani adalah berbeda dengan rencana semula maka itu cukup mengagetkanku. Tak ada yang sanggup untuk memastikan bahwa tikungan akhir itu benar-benar berubah atau tidak.

Yang kutahu saat ini adalah aku tetaptak berubah di dalam Semesta ini. Setiap rancangan yang kususun bukanlah mengenai aku lagi dan bagaimana hasil akhir harus kugapai, namun semua tentang bagaimana Semesta bekerja dan bagaimana perjalanan kulalui dengan semestinya. Kalau segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku, mengapa aku mesti takut. Tugasku hanya berjalan dan menuju yang garis yang telah ditentukannya kelak. Mencari arah adalah mencari jawab atas segala pertanyaan yang diberikannya keadaku. Ketika pertanyaan diberikan pun sebenarnya arah itu sedang diberikannya pula.

"Kau pernah mengalaminya bersamaku, mengapa kau merasa ragu. Diamlah dan kau akan mengerti kemana kita akan bersama pergi".

Sabtu, 28 Februari 2015

So, Next..??

Sepanjang hari ini tatapan kosongmu tak lepas dari ingatanku. Tatapan ketika perbincanganku dengan Tante L mengenai rencana tinggalku di kota ini. Sekilas aku melirik ke arahmu dan kusadari bahwa wajahmu telah berbeda,hanya tatapan kosong yang kulihat.

Kau tahu bahwa sesungguhnya aku pun tak tahu berapa lama aku akan tinggal di sini. Rencanaku semula, semenjak kedatanganku ke kota ini dua tahun yang lalu, yang seharusnya membawaku kembali ke kota asalku saat ini seolah sirna dalam hitungan minggu. Aku tahu aku berada di mana saat ini, di situasi bimbang.

Dalam hitungan hari di beberapa minggu ini kau menjadi alasan mengapa rencanaku berubah. Tentu,itu bukan salahmu. Aku masih tetap berpegang bahwa rencanaku bukanlah rencana yang dirancang oleh Semesta. Dan kebimbanganku kali ini membawaku dalam pertanyaan apakah engkau termasuk dalam rencana yang disusun Semesta untukku.

Hal mudah untuk memutuskan dan menuruti apa yang di depan mata. Namun, bukankah kita diajarkan oleh Semesta untuk selalu belajar padanya. Bukan yang di depan mata namun apa yang sebenarnya diberikannya kepada kita. Sungguh ini terlampau sulit bagiku. Tapi bukankah, lagi-lagi, kita pernah diajarkan bahwa apa yang diberikan kepada kita selalu disertai dengan penyertaan setiap waktu yang disediakannya. Kau punya mimpi, kau berusaha, dan Semesta akan besertamu karena sesungguhnya di dalam Semesta itulah kita berada.

Bukan hal mudah juga ketika mengingat beberapa belas tahun yang lalu ketika aku memutuskan menyerahkan hidupku. Saat itu, hingga sekarang, aku tahu bahwa hidupku bukanlah milikku. Menyerahkan hidup bukan hanya menyerahkan setiap rencanaku namun juga harus diartikan bahwa aku harus memahami rencana yang disusunnya untukku. Hidup ini telah menjadi miliknya. Aku hanyalah roh yang dia tiupkan ke dalam raga ini.

Mencari suara dari Semesta adalah hal mutlak. Namun,memang, terkadang kita juga diminta bukan hanya untuk mencari suara namun juga masuk dalam keheningan dan belajar memahami bersamanya. Di titik ini aku sadar bahwa ketika kau hadir dalam hidupku itu juga merupakan bagian dari rencananya. Tapi aku tak tahu apakah pendewasaan kita bersama juga merupakan bagian dari rancangan Semesta atau tidak. Alangkah indahnya kalau dapat terwujud. Barangkali kau lah bentuk bidadari yang sempat diucapkannya kepadaku.

Kali ini sosokmu menjadi pertimbangan terbesarku dalam proses pertanyaanku dan pencarian jawabku. Kuharap namamu menjadi bagian dari rancangan besar yang telah ditunjukkannya kepadaku. Nama yang akan menjadi bagian dari hidupku hingga akhir hayatku. Nama yang bukan hanya tercantum pada kertas suci di altar gereja namun juga nama yang akan terhias dalam batu nisan kita.

Seperti kuingat pada setiap momen kepindahanku ke kota lain. Dia selalu mengingatkanku bahwa jika aku sudah selesai melakukan apa yang harus kulakukan di satu kota maka memang saatnya aku harus berpindah, namun jika memang belum saatnya maka sebagaimanapun aku berusaha maka aku tetap tak akan berpindah. Kali ini kuharap kau tetap menjadi bagian dari rencana yang manapun. Kuharap ini bukan hanya egoku, ini keinginanku. Dan doaku.

Bolehkah kali ini aku bertanya kepada Semesta, "Apa selanjutnya..?"

Jumat, 20 Februari 2015

Tahun Baru

November 2014, tokoh di dunia pendidikan yang didaulat menjadi menteri pendidikan dasar kembali mengingatkan kita bahwa merayakan Indonesia adalah melunasi janji kemerdekaan. Kemerdekaan Indonesia yang berdasarkan gagasan untuk bersatu. Nasionalisme bukan karena darah namun karena gagasan. Menjadi Indonesia tidak harus kehilangan kejawaannya, keminangannya, kepapuaannya; tidak harus hilang identitasnya.

Merayakan tahun baru hari ini merupakan salah satu wujud untuk tidak menghilangkan identitas jati diri bagi sebagian rakyat di negeri ini. Meski berpuluh tahun tidak dapat merayakannya dengan bebas dan terbuka, namun era yang baru telah membawa banyak perubahan dalam usaha untuk menanamkan identitas itu. Menguatkan identitas diri bukan berarti melemahkan identitas yang lain. Memahami diri sendiri seharusnya menjadi sisi keping mata uang lain untuk memahami sesama.

Jauh di negeri seberang, sudah dua tahun tak kujumpai ucapan selamat dan hormat di pagi hari, berbagai makanan khas khusus tahun baru, hingga tradisi yang tak boleh menyapu rumah. Rindu sepertinya melakukan hal itu, terutama dilakukan  di rumah bersama keluarga. Namun apa hendak dikata,ribuan kilo terpisah menjadi hambatan untuk mewujudkannya. Sedikit yang bisa kulakukan adalah melakukan semua kebiasaaan-kebiasaan itu meski tanpa keluarga. Kalau tak dapat melakukannya bersama keluarga, setidaknya yang bisa kulakukan adalah menghadirkan suasananya di tempatku berada saat ini.

Terlebih dari itu, menghadirkan tradisi dan kebiasaan dapat memelihara rasa akan identitas yang kusandang. Meski banyak hal telah berubah namun nilai yang pernah ditanamkan padaku dapat kupelihara. Apalah gunanya identitas ketika kita tidak menjaganya.

Selamat tahun baru!!
Gong Xi Fa Cai

Rabu, 29 Oktober 2014

You're Always Been 'There'

Bukan sekali ini aku melihatmu berganti baju didepanku, seolah kau tak tahu bahwa aku duduk di belakangmu. Bahu dan punggung tegapmu seolah menyiratkan kepadaku bahwa kau sosok wanita yang tegar, balutan bra hitam kesukaanmu seolah membungkus rapat tiap misteri dalam tiapperjalanan hidupmu.
Kupikir, saat-saat seperti inilah saat-saat aku menikmatimu dengan seluruh indraku. Saat dimana kau mulai melepas bajumu dihadapanku. Meski kau berbalik dan berdiri jauh dariku, aku masih dapat menikmati lekuk tubuhmu dan merasakan hangatnya sentuhan kulitmu. Meski peluh membasahimu, wangi tubuhmu tetap tercium hidungku hingga menyentuh bagian terindah dalam memoriku.
Sejenak kau menoleh ke arahku. Mungkin hendak memastikan apakah aku menatap lekat tubuh dewasamu.
Sembari kau memakai kaos hitam kesukaanmu, kau berkata kepadaku, "Happy Birthday!!".
"Tak terasa ya, sudah banyak ulang tahun yang kita lewati bersama. Dan kita masih bisa saling mengucapkannya."
"Aku selalu merasa beruntung dapat mengucapkan syukur karena selalu ada kesempatan untuk kita saling jaga", sambungmu.

Aku menghela nafas sejenak ketika kau mulai berdiri dihadapanku. Kutundukkan kepalaku. Aku mulai berpikir bahwa memang benar waktu berjalan begitu cepat. Tak terasa memang bahwa sepuluh tahun ini telah kita lewati bersama. Berbagai macam peristiwa pun telah hadir diantara kita namun tetap saja aku merasa beruntung karena kau tetap berada bersama denganku, hingga detik ini.
"Hei, apa yang kau pikirkan?"
"Kau selalu memikirkan banyak hal bahkan hingga ke sesuatu yang sangat jauh. Pikiranmu terlalu liar. Tapi mungkin itu yang membuat kita bersama."
"Kali ini akuingin berdoa untukmu.."
"Bapa, semoga apa yang dia mimpikan sejalan dengan apa yang Kau siapkan buat dia. Kalaupun ternyata berbeda, semoga pria dihadapanku ini Kau beri iman yang kuat seiring perjalanan ini sehingga bisa senyum selalu."

Aku sedikit tersenyum mendengarnya. Kurasa, pada bagian ini, Bapa sudah mulai mengabulkan doamu.
"Iman yang kuat.", kataku dalam hati.
Mungkin itu yang kubutuhkan. Aku akan kembali jauh darimu. Perjalananku belum selesai dan aku harus kembali untuk meninggalkanmu.
Kurasa, aku memang membutuhkan iman yang kuat untuk tetap mengingatmu seperti aku mengingat Bapaku. Iman yang dimana ketika kita jauh, aku tetap dapat mempercayaimu dan mengandalkanmu. Serta, iman yang dimana ketika kita bersama, seperti saat ini, kita dapat mencurahkan kerinduan dan segala curahan hati kita tanpa melanggar prinsip yang kita bangun bersama.

Aku teringat ketika kita pernah membahas antara tabu dan sakral. Kita berdua memang bisa berbicara apapun tanpa takut melanggar sesuatu karena tidak ada hal yang tabu bagi kita. Namun, di atas dari hal-hal yang tabu itu, kita masih tahu bahwa ada hal yang sakral. Hal yang sakral inilah yang tidak dapat kita langgar.
Ya, kurasa kita tetap membutuhkan iman yang menjaga kita tetap utuh seperti saat ini meski banyak hal yang tabu bagi masyarakat kita yang telah kita acuhkan.

"Thank you for being a friend and a brother, who's always been 'there', who scolds when I'm wrong, ho smiles when I'm happy, who always thinks and cares about me no matter where."
"Thank you for being you", ucapmu sembari kau mendekat dan memeluk erat kepalaku

Pelukanmu serasa menjalar hingga ke nadiku.
Aku merasakan kehangatan yang sangat amat, seolah pelukanmu menjadi perisai yang dapat melindungiku dari ketakutan-ketakutan yang sering menghampiriku.
Aku tahu bahwa terkadang aku terlalu memikirkan banyak hal hingga kemungkinan terkecil sekalipun. Hingga aku merasa terus khawatir mengenaimu.
Namun, kali ini, semuanya seolah lenyap dari ingatanku. Remasan jarimu pada rambutku seolah memberikan kata bahwa kau adalah wanita yang cukup layak untuk kupercayai.
Harum perutmu yang tepat berada di penciumanku memberikan sedikit rasa damai dalam jiwaku. Mungkin damai ini yang selalu membuatku merasakan bahwa kita selalu berada di jalan yang sama, jalan kebenaran.

Jalan kebenaran yang selalu kita impikan. Aku tahu bahwa terlalu sulit jalan yang ada di hadapan kita. Namun, aku tahu juga tahu bahwa jalan sesulit apapun takkan berarti bagi kita selama kita masih punya harapan. Harapan yang selalu membuat kita merasakan bahwa kita tak pernah sendiri dan tak pernah ditinggalkan sampai kapanpun.


Hasratku kembali mencuat ketika kau dekatkan wajahmu dihadapanku.
Lirih kudengar kau berkata, "Hope God always shower you with blessing in every aspect of your life."
"Be still. Aku tahu bahwa Tuhan selalu menjagamu.", ucapmu sambil tersenyum.

Aku tahu aku selalu berhasrat ketika melihat sosok wanita dihadapanku. Namun, kau berbeda. Aku tak pernah berhasrat kepadamu, tak ada nafsu yang menggebu, meski kau seringkali memperlihatkan lekuk tubuhmu kepadaku. Kurasa kau tahu itu.
Kupikir, aku hanya punya rasa sayang yang terlalu sangat kepadamu. Kalaupun suatu saat aku harus menjamahmu, aku ingin bahwa jamahan sayang yang terjadi, bukan jamahan yang penuh dengan nafsu yang tak terkendali,
Dan kali ini aku semakin mengerti bagaimana Tuhan menjagaku, dan menjagamu.

"Semoga kau juga selalu ingat, walau kita terpisah jarak dan waktu, walau terkadang tampaknya aku tak dapat dijangkau, aku selalu ingat kamu dan selalu berdoa buatmu.", ucapmu sambil tersenyum manis.

Ya, aku tahu. Dan akupun ingin kau tahu bahwa kau selalu kuingat dan kusebut dalam doaku. Aku tak pernah berhenti memikirkanmu.
Mungkin doa kita itulah yang selalu menjangkau kita.
Kita yang terhilang masing-masing selalu dapat menyatu dalam sebuah tangan yang menggenggam. Kuharap genggaman sebuah doa dapat terus menjadi kekuatan batin diantara kita, meski raga kita tak bertemu.
Kupikir aku juga merupakan pria yang beruntung. Di saat banyak pria berada di sekitarmu dan terkadang membuatku cemburu, namun ternyata merekalah yang seharusnya cemburu karena bagaimanapun namakulah yang selalu kau simpan dalam hati dan dalam tiap doamu.

Sejenak aku tersenyum. Bahagia dan rasa damai menyelimutiku.
Kukecup indah parasmu dan berkata tepat di telingamu, "Thanks.. You are also always been 'there'."


Bandung, 27.10.2014
-Thanks, God.You're always been 'there' for us..-

Senin, 18 Agustus 2014

Kami Tahu Hatimu..

Dirgahayu RI ke-69!!!

Bukan sesuatu yang mudah untuk mengucapkan terima kasih kepada para pahlawan yang berjuang bagi bangsa ini. Mudah mengucapkannya namun terlampau sulit ketika kita mengingat bahwa pengorbanan mereka terlampau besar untuk kita bayarkan dengan ucapan 'terima kasih'.

Jika ada kata yang lebih dalam maknanya dari 'terima kasih', itulah kata syukur. Mungkin kata itu yang dapat menggambarkan kekuatan besar yang hadir untuk melahirkan republik ini. Kekuatan yang didalamnya terdapat keringat, darah, dan air mata dari tiap anak bangsa. Yang dahulu kita tak pernah tahu dia siapa dan darimana namun tetap bersatu dan bersama-sama berjuang, meski terkadang ada kata 'khianat' diantaranya. Kekuatan yang tak pernah menyurutkan arti kata 'berjuang' dan 'semangat'. Kekuatan yang menjadikan perbedaan ide tak menjadi perbedaan yang memisahkan namun malah menjadi alat pemersatu. Kekuatan yang mematahkan sumbu persatuan dengan menyingkirkan khianat didalamnya. Kekuatan besar itu bukanlah mitos karena hasil daripadanya adalah negeri ini yang didalamnya kita terkandung.

Terkekang selama berpuluh tahun dan terobrak-abrik selama bertahun setelahnya, membuat kami tak kunjung melihatnya lagi. Kami rindu kekuatan itu kembali ada bersama kami. Kami tidak ingin hanya disuguhi aneka ragam atraksi unjuk kekuatan tanpa terkandung kekuatan sebenarnya didalamnya. Kami ingin bahwa kekuatan yang sama sewaktu dulu juga menggerakkan pikiran kami, hati kami, perkataan kami, dan tindakan kami saat ini.

Dan sampai saat kami menyadari bahwa kekuatan itu sebenarnya tak pernah hilang. Dia yang tak terlihat selama sekian masa bukanlah hal tak ada. Tak selamanya yang tak kita lihat itu berarti tidak ada. Meski tak terlihat, dia tetap tersimpan di tempat terdalam pada jiwa kita. Kekuatan besar itu masih tersimpan di dalam kita. Bukankah kau masih merasa risih dan jengah atas ketidakadilan selama ini? Bukahkah kau merasa terganggu saat melakukan salah dan kebohongan bagi sesamamu? Bukankah kau merasa bersalah ketika yang seharusnya menjadi alat pemersatu malah menjadi alat pemisah? Dan, bukankah kau merasa terganggu ketika kau menjadi khianat atas bangsa dan sesamamu?

Kita hanya perlu menyimpannya rapat-rapat dan semakin membawa apa yang kita inginkan terkubur dalam-dalam. Atau, kita dapat memulai untuk menggerakkan kekuatan itu. Membuka kembali jiwa kita yang memendamnya dan merajutnya satu sama lain bersama-sama. Kekuatan yang besar dari tiap kita dapat menjadi kekuatan tak terkalahkan untuk mewujudkan impian kita. Impian dimana kemerdekaan adalah merdeka dalam kondisi yang sesungguhnya, meski terkadang utopia dalam proses pembelajaran kita. Mimpi kita untuk melihat bangsa ini bersatu dan maju tak pernah hanyut terhilang oleh waktu, dia hanya menunggu kita, sebagai anak bangsa, untuk bergandengan tangan dan berjuang bersama. Aku percaya bahwa tiap dari kita masih menyimpan hati untuk bangsa ini. Hati yang penuh dengan kekuatan besar itu.


Syukur untuk setiap rencanamu
Dan rancanganmu yang mulia
Dalam satu tubuh kami bersatu
Menjadi duta kerajaanmu

Kuucapkan berkat atas Indonesia
Biar kemuliaan Tuhan akan nyata

Kami indu melihat Indonesia
Pulih dari semua problema
Hidup dalam jalan kebenaranmu
Pancarkan terang kemuliaanmu

Kuucapkan berkat atas Indonesia
Biar kemuliaan Tuhan akan nyata

Bagi bangsa ini, kami berdiri
Dan membawa doa kami kepadamu
Sesuatu yang besar pasti terjadi
Dan mengubahkan negeri kami

Hanya namamu Tuhan ditinggikan
Atas seluruh bumi

Kami tahu hatimu ada di bangsa ini..

(True Worshippers)

Rabu, 02 Juli 2014

Kita Tak Bisa Berhenti Sekarang, Kawan..

Memahami mata yang kaupejam
adalah pulau yang jauh di ufuk timur
Matahari.. matahari..
Oo.. Oo..

Kita yang masih bertani
Berdiri menatap matahari
Menitip mati, Melumat sepi
Esok pagi. Revolusi...
(Mukti Mukti, Menitip Mati)


Beratus kali aku mendengarnya namun tetap saja aku tak sanggup untuk menahan perasaanku. Tiap kali mendengarnya pasti akan ada gejolak yang terus menerus menggelora.
Kali ini bukan abangku J yang menyanyikannya. Asal kau tahu, tiap kali dia menyanyikan lagu ini saat duduk sendirian di seberang jalan di tengah malam, hatiku selalu bergidik. Aku merindukannya.
Suara Mukti Mukti melalui streaming, jauh dari kota dimana aku mendengarnya dulu, juga tak mengurangi gejolak yang dulu pernah ada.
Dia berkata: Revolusi!!

Kupikir bukan perkara mudah bagi dia untuk berkata demikian. Bukan seperti seorang muda yang baru membaca beberapa buku dan berteriak 'revolusi'. Dia pasti lebih dari itu. Entah mengapa, hatiku selalu berkata bahwa dia menyanyikannya dengan hati. Ketika seorang manusia berakal meneriakkan suara hatinya, dia bukan lagi menjadi bagian dunia ini tapi dia juga menjadi bagian dari perubahan atas dunia ini.

Kita dulu menuntut atas perubahan..
Kita ingin perubahan dan kita memperjuangkannya. Ingatlah. Kita yang dulu berjuang sendiri. Kita yang dulu menangis sendiri. Berjuang bagi apa yang kita lihat benar dan menangis untuk apa yang kita lihat salah. Kesendirian atas proses perjuangan dan perih yang kita hadapi tidak akan pernah padam. Namun, kali ini kita tak akan dituntut untuk berjuang sendiri..

Ketika kau bertemu kawan yang mau berjuang bersamamu, kau takkan sanggup menolaknya.
Ini bukan perkara kau mampu dan mau berjuang sendiri, namun kesadaran bahwa perjuangan sekumpulan orang pasti lebih menimbulkan efek yang lebih besar dibanding perjuangan masing-masing.
Ketika ikatan hati telah menjadi satu, kau takkan sanggup menolaknya.
Ketika seorang pejuang bertemu pejuang lainnya, kau akan mengetahuinya dan takkan sanggup menolak untuk berjuang bersama.

Kali ini aku telah mendapatkan seorang kawan.
Kawan yang mau berjuang bersama untuk menuntut perubahan.
Perubahan atas kondisi yang kita keluhkan selama ini.
Dan aku menyadari bahwa perubahan itu akan semakin cepat menjadi kenyataan ketika kita berjuang bersama.
Kau takkan sanggup menolaknya.
Karena dia juga telah berteriak, "Revolusi!!!"

Saat ini perubahan itu telah datang.
Kau yang menuntut perubahan, takkan bisa menghentikannya.
Ketika dahulu kakimu telah melangkah, sekarang saatnya menancapkan kakimu dalam-dalam.
Kali ini, kau hanya dapat meneruskannya. Meneruskannya dengan terus berjuang bersama.
Hai, kawan! Jangan takut dan jangan surut!!
Bukankah dulu kita pernah berkata seperti itu. Takut hanya milik pengecut. Kalah dan menang tak ada dalam kamus pejuang. Dan rasa lelah hanya milik pihak yang lemah.
Kita tak bisa berhenti sekarang, kawan..
Ingat. Kita hanya berhenti ketika kita telah mencapai tujuan, bukan karena rasa lelah.

Ingatlah, kawan..
Dahulu kita punya tangis yang tak pernah berhenti atas negeri ini.
Namun..
Bukankah kita semua juga punya mimpi.
Bukahkah kita semua juga punya hati.
Sekarang inilah saatnya kita menangkan Revolusi!!

Salam dua jari.
Revolusi Mental.

Berlin, 1 Juli 2014.

Jumat, 20 Juni 2014

Kita Berhak...

Malam itu, hanya bersama tiga kawanku di lorong sunyi kampus yang penuh dengan tiang batu, kami berdiri di depan laki-laki yang kukenal sebagai seniorku. Ya, kami sedang dalam masa penerimaan sebagai anggota organisasi di kampusku.
Sejenak aku tertegun dan seakan tak sanggup aku mendengar suaranya. Suara yang tak terdengar begitu keras namun tampak sangat tegas.
"Kalian tahu, kalian berdiri di tempat ini menyisihkan berapa banyak orang dan berapa banyak mimpi manusia?!"
"Kalian tahu, banyak darah dan air mata tercurah untuk kalian berada di tempat ini?!"
"Kalian tahu bahwa dinding ini menyimpan banyak tangis manusia di luar sana yang berharap pada kalian?!"
Aku baru tahu..

Kurasa itu bukan kali pertama aku mendengar cerita dan orasi macam itu. Mungkin sudah beberapa kali, namun kali itu adalah pertama kali kesadaran datang kepadaku.
Kesadaran selalu berbuah pada pertanggungjawaban. Tanggung jawab atas pelaksanaan perbuatan dari kesadaran yang kita terima.
Mau tak mau, siap tak siap, tiap butir kalimat yang diucapkannya telah masuk dan tercerna dalam diriku.
Ya. Kami, kita semua tepatnya, seluruh pemuda yang mengaku bangsa Indonesia, berdiri di atas tangis dan darah manusia. Bangsa ini didirikan bukan hanya melalui mimpi, namun juga melalui darah dan perjuangan.

Mungkin banyak diantara kita yang sudah hiraukan pelajaran sejarah dan saat ini sedang menghindari sejarah dengan mengatakan bahwa kita tak perlu belajar sejarah karena sejarah bangsa ini pun sudah banyak yang diputarbalikkan.
Kawan, kurasa ada benarnya. Namun, juga tak semua pemikiran itu benar.
Kalau kita merasa kata-kata itu hanya keluar dari mulut aktivis, kita sudah selayaknya belajar untuk merenung sejenak...

Sejarah penggantian presiden kita selalu diliputi oleh kabut tebal.
Peristiwa supersemar berujung pada turunnya bung Karno. Setelah berpuluh tahun kita hidup dalam kebenaran subjektif yang ditanamkan sang penguasa kedua, kini kita seolah mencari kebenaran yang sebenar-benarnya dan seolah tak dapat mempercayai pelajaran sejarah yang kita dapatkan.
Hati kita yang terluka akibat kebohongan yang terkuak seolah meminta otak kita menolak segala kenyataan.

Kenyataan yang hingga kini masih dapat ditelusuri.
Kenyataan bahwa banyak darah tercurah bagi peristiwa itu. Kenyataan bahwa banyak tangis dan air mata yang terlinang akibat kekejaman. Kenyataan bahwa telah terjadi penindasan terhadap kaum lemah.
Kita lupa akan hal itu..
Bahkan ketika itu terus berlangsung tatkala sebagian dari kita termanjakan oleh kondisi yang super nyaman ala penguasa masa itu.

Belum lama berselang, beberapa belas tahun yang lalu, kembali peristiwa sejarah penggantian presiden kita dilalui dengan pengorbanan nyawa manusia.
Peristiwa yang terjadi dalam beberapa tahun dipenuhi dengan korban kekejaman, penindasan, kesewenang-wenangan, air mata, darah, dan nyawa.
Berapa banyak manusia yang terkorban 'hanya' karena mimpi dan perjuangan yang dipercaya.
Bukan karena mimpi yang salah dan perjuangan yang menentang dunia. Mimpi yang diperjuangkan adalah mimpi yang sama atas proklamasi negara ini. Perjuangan yang menuju kebenaran dan kehidupan sesama, bukan perjuangan yang menghancurkan manusia.
Sudah lupakah kita???

Penggantian presiden kali ini pun, membuat aku sedikit bergidik.
Aku takut hal sama akan terulang..
Ketakutanku bukan hanya pada memori atas peristiwa yang menyayat hati kala itu, juga ketakutan bahwa kita lekas menjadi lupa dan takut mengingat kembali. Aku takut menjadi lupa.

Kembali aku merenung..
Karena merenung terkadang membuatku memasuki dunia dimana aku dapat kembali ke masa itu.
Merasakan bahwa tanah yang kupijak adalah tanah yang direbut oleh taruhan nyawa dan air yang kunikmati berasal dari tangis dan darah anak bangsa yang beruntung mendapatkan pencerahan sekaligus jalan hidup untuk melaksanakannya dalam perbuatan.

Kali ini aku harus memilih. Bukan berdiam dan mengatakan seolah-olah itu masalah para elit dan aktivis.
Ini bukan persoalan mereka. Ini adalah persoalan bahwa kau berada di tanah yang kaupijak dan kau tak boleh lupa darimana tanah itu berasal. Kau tak boleh lupa kau berasal dari mana.
Ketika kau memikirkan, kau harus melaksanakan.
Ketika kau melaksanakannya, kau harus memperjuangkannya.
Ketika kau memperjuangkannya, kau harus mendapatkannya.

Perjuangan kita kali ini tak mudah, kawan.
Aku dengan mudah dapat menentukan kemana aku melangkah. Aku harus memberikan pilihanku ke tangan yang tak penuh darah.
Aku tak mau memilih mereka yang menggenggam luka, amarah, dan darah dari manusia-manusia yang berjuang bagi kita.

Dalam pemikiran, aku dengan mudah melihat mana kawan yang dapat berjuang bersama denganku.
Kawan yang memberikan hidupnya sebagai perjuangan atas mimpi kita bersama.
Kawan yang memberi secercah harapan dan tak penuh darah atas sesama.
Kawan yang membuatku merasakan bahwa aku layak bekerja bersama dengannya untuk membangun segala impian atas bangsa ini.
Aku punya mimpi atas bangsa ini. Aku punya harapan atas bangsa ini.
Dan aku punya perjuangan untuk bangsa ini.
Aku berhak memilih kawan untuk memperjuangkan hal yang sama.
Kita berhak memiliki perjuangan itu bersama...

Salam dua jari.

Berlin, 19 Juni 2014.

Senin, 24 Maret 2014

Kembalikan Negeri Kita!!!



Apakah kita muak dengan kondisi negara kita? Apakah kita sudah jenuh dengan kebohongan dan hanya bisa menggerutu? Atau kita sudah tidak peduli? Kalau boleh jujur, kubilang untuk kalian semua: TERSERAH!!!
Mengapa 'terserah'? Karena kupikir kita semua punya suara untuk menentukan nasib bangsa kita. Namun, sekali lagi namun, untuk kita bisa ngomong terserah pun, kita harus tahu mengapa kita bisa bilang terserah. Tanpa dasar (atau keinginan untuk berpikir), kita hanya seonggok daging berselimut ego.

Pembangunan negara selalu indentik dengan pembangunan infrastruktur, meski itu bukan satu-satunya tolok ukur dan tentu tidak dapat berdiri sendiri tanpa faktor lainnya seperti ekonomi, politik, kebudayaan, dan lain sebagainya. Carut marut kondisi pembangunan di negara ini sudah barang tentu menjadi cerminan pengelolaan yang carut marut juga tentunya. Salah seorang profesor bahkan setiap kali berbicara dihadapan petinggi negeri selalu berkata bahwa solusi dari memperbaiki infrastruktur di Indonesia adalah pertobatan. Jika hendak ditarik lebih jauh lagi, tampaknya pernyataan itu tidak salah dan tentu saja berkaitan erat dengan kondisi pemerintah yang mengelolanya.



Ditilik dari berbagai sudut, kondisi infrastruktur sangat dipengaruhi oleh perencanaan yang matang. Satu hal itu yang tampaknya lepas dari genggaman kita. Meski banyak perencanaan yang sudah disusun dalam jangka pendek, menengah, dan panjang; namun jika benar ditelaah lagi, perencanaan yang dimaksud itu adalah perencanaan program sesuai jangka waktu yang ditetapkan diatas, bukan perencanaan yang didasarkan oleh ilmu pengetahuan. Seharusnya, perencanaan berjangka harus didasarkan pada basis keilmuan. Selama ini yang terjadi di Indonesia lebih banyak perencanaan didasarkan pada kebutuhan. Ya, memang harus berdasar kebutuhan namun kebutuhan yang seperti apa. Terlebih, sangat tipis batas antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan yang tidak ditunjang dengan keilmuan akan menghasilkan malapetaka. Sebagai contoh, jika seorang awam diminta seseorang untuk menolong dia menyembuhkan tangan yang terkilir, apakah kita berani? Tentu tidak, meski orang tersebut sangat membutuhkan bantuan tetapi tanpa ilmu yang cukup malah akan memperparah cedera.

Selanjutnya adalah proses pelaksanaan pembangunan yang tidak didukung dengan kemampuan terbaiknya. Secara teknis, sebenarnya negara ini penuh dengan orang-orang pintar yang juga berdedikasi terhadap pembangunan namun mereka tersisih dalam persaingan yang amburadul sehingga banyak yang menjadi pengambil keputusan adalah orang-orang kotor yang memenangkan persaingan dengan cara kotor pula. Yang terjadi kemudian adalah pengambil keputusan itu yang menentukan kualitas pembangunan di negara ini. Inilah kondisi pemerintah kita sekarang.

Jangan pernah menyalahkan dan mempertanyakan mengapa orang-orang yang baik dan pintar itu tersisih. Kalau kita tak pernah merasakan kondisi di dalam struktur dan bagaimana mereka berjuang sebagai minoritas, kita tak pernah tahu beratnya perjuangan mereka dan helaan nafas setiap kali suara mereka hanya berakhir di perintah atasan, paling jauh pun hanya berhenti di gebrakan meja dari suara sang idealis. Mereka adalah orang-orang yang akan muncul ketika pemimpin di negeri ini adalah pemimpin yang berhati bersih dan memberikan kompetisi yang jujur terhadap sistem dibawahnya; mereka akan muncul pada saat itu. Selain itu juga, masih banyak orang-orang yang sebenarnya ingin merubah keadaan namun jalan yang mereka tempuh adalah menjadi partikel bebas yang terus menyuarakan kebenaran di sudut-sudut ruang gelap. Sekali kita memanggil, mereka akan bergerak keluar secara serentak.

Kondisi carut marut yang penuh dengan tangan kotor itu dipengaruhi oleh banyak hal, KKN salah satunya. Akar permasalahan ini tentu saja karena warisan sistem pemerintahan kita yang sepertinya dirancang supaya setiap manusia didalamnya hanya bergantung pada perintah atasan. Celakanya, perintah atasan itu bukan hanya perintah yang didasarkan pada perencanaan keilmuan, hampir seluruhnya didasarkan pada keinginan sang penguasa semata. Terlebih, rekayasa sistem pemerintahan yang terkait gaji, kesejahteraan, dan etika kerja pun sangat mendukung warisan tersebut.

Menjadi pertanyaan lanjutan adalah apakah kondisi tersebut tidak dapat diubah? Tentu saja bisa, namun ini menjadi tugas utama seorang pemimpin negara yang akan segera kita pilih pada tahun ini. Kunci utama yang harus dibawa adalah pertobatan nasional.



Mengubah kondisi infrastruktur yang sudah semakin parah ini hanya dapat dilakukan dengan dua dasar, yaitu: keilmuan dan pemberantasan korupsi.

Dalam hal keilmuan, perencanaan berjangka dan pembangunan harus didasarkan pada keilmuan yang berintegrasi. Banyak ilmuwan, akademisi, dan profesional yang dapat menyumbangkan pikiran mereka dalam proses ini. Mereka yang selama ini hanya menjadi 'narasumber' para pengambil kebijakan dapat diberikan peran yang lebih banyak lagi. Dengan proses yang profesional pula, tentunya mereka dapat menentukan arah pembangunan berdasarkan keilmuan yang ada. Yang menjadi fokus kemudian adalah mereka yang dipilih haruslah mereka yang benar-benar berdedikasi untuk keilmuan. Tak dapat disangkal bahwa kondisi bangsa yang berpuluh tahun dikelabui warisan buruk dari rezim terdahulu sudah menunjukkan dampaknya pada oknum-oknum di dunia keilmuan.

Keilmuan harus juga menjadi dasar bagaimana suatu sistem organisasi dapat dibentuk. Jika menentukan perencanaan sudah tepat sesuai dengan keilmuan, maka organisasi juga mengikuti bagaimana perencanaan tersebut dapat dilaksanakan sehingga penentuan sistem organisasi dapat dibuat seramping mungkin dan dengan beban kerja yang sudah terukur dengan sangat jelas dan terencana hingga jangka waktu yang panjang. Keefektifan dan keefisiensian dari organisasi akan sangat menentukan bagaimana perencanaan dapat tertuang menjadi pelaksanaan.

Dalam hal pemberantasan korupsi, beberapa langkah strategis harus dilakukan. Salah satu yang harus diprioritaskan adalah gaji pemerintah. Bagaimana bisa gaji seorang yang mengemban tanggung jawab besar atas pembangunan infrastruktur malah sangat kecil? Tentu bukan berarti gaji nya harus sangat besar namun yang menjadi persoalan adalah bagaimana gaji tersebut dapat memenuhi kebutuhan sesuai dengan jabatannya. Kunci dari sistem gaji ini sangat dapat didasarkan dengan penggajian berdasarkan sistem nilai. Harus ada formulasi yang dapat menentukan gaji seseorang sesuai dengan kapasitas dan tanggung jawabnya. Tidak mudah memang, namun inilah yang harusnya dapat menjadi kunci utama keberpihakan terhadap setiap manusia yang menjadi abdi pemerintah. Jika belakangan ini sering kita dengar bahwa pemimpin negeri yang sekarang berkata tentang gajinya yang sangat kecil, kupikir ini yang agak lucu. Kupikir, rakyat Indonesia pun tak akan peduli kalau gaji seorang pemimpin (misal) 3 milyar per bulan JIKA dapat menyelesaikan banyak masalah yang terjadi, jika dapat mensejahterakan rakyatnya; daripada selalu mengeluarkan keluhan hanya digaji sekitar 60 juta namun tetap saja tidak terasa perubahan yang berarti di negeri ini.

Hal selanjutnya yang harus menjadi perhatian, ketika sistem penggajian sudah tertata dengan baik harus ada sistem hukuman yang dilaksanakan. Sistem hukuman ini merupakan konsekuensi logis dari gaji besar yang sudah diterima. Setiap ada kesalahan atau kerugian negara dalam hal pembangunan harus ada hukuman yang sangat berat yang harus diterapkan, hukuman paling berat di negeri ini pun harus menjadi salah satu hukuman yang dapat diterapkan dalam pemberantasan korupsi (hukuman mati). Ini adalah kunci dan bukti bahwa kita tidak main-main untuk mengelola negara ini. Negara ini tidak bisa dikelola oleh otak yang hanya berkisar soal mengisi dompet, perut, dan selangkangan saja. Ketika kesejahteraan dan gaji sudah dijamin secara pasti tidak akan ada pembenaran yang dapat dikemukakan atas setiap kesalahan.
Pemerintahan yang kuat akan menjadi motor utama pengembalian kondisi infrastruktur di negeri kita ini.



Bukan hal mudah untuk memulai gerakan perjuangan ini. Tidak lah mudah mengembalikan kondisi infrastruktur yang sudah amburadul di berbagai sisi. Namun bukan pula perkara yang mustahil untuk dilakukan. Semua dapat dimulai dengan sosok pemimpin yang mau berubah bangsa dan negara ini. Jika seorang pemimpin bersih dapat muncul dan berteriak ke segala arah, para manusia 'diam' dan mempunyai 'hati' untuk bangsa ini pun akan keluar dari sudut gelap bersama masyarakat.
Jadi, masihkah kita yakin untuk terus berteriak dan berjuang mengembalikan negeri kita menjadi kembali makmur? Tentu saja. Ayo, Kembalikan Negeri Kita!!!

Sabtu, 15 Maret 2014

Setengah Langkah

Akhirnya..

waktu yang dinanti oleh banyak orang telah datang. Sang Ibu memberikan mandat kepada 'anak'nya untuk berjuang menjadi pemimpin negeri ini.

Kali ini kali kedua kebangkitan. Setelah yang pertama menjadi gerakan perlawanan atas rezim penguasa puluhan tahun dan yang kedua menjadi oposisi atas dua kali masa pemerintahan dari pemerintah autopilot (seperti yang dikemukakan banyak media dan pengamat, 2012). Euforia pada kebangkitan pertama ditandai dengan ketidaksiapan penuh menjadi penguasa. Berbagai masalah di kondisi yang kacau tidak dapat diselesaikan dengan kapasitas yang dipunyai. Banyak yang diperbaiki namun banyak pula yang belum tersentuh.

Kali ini cerita itu berubah. Menjadi kubu yang tidak turut berkuasa atas pemerintahan, masa ini dilakukan dengan membangun diri terus-menerus untuk tetap menjadi wadah atas kuasa rakyat. Dalam proses berdiam diri inilah membentuk diri dan membangun kapasitas terus dilakukan dengan menjadikan rakyat atas tuannya dan membentuk kader terbaik sebagai wakil dari rakyat.

Kebangkitan kedua ini dirasa sangat pantas. Partai yang membangun diri dan terus berjuang untuk rakyat bukanlah musuh dari bangsa. Dia yang dimiliki oleh rakyat seharusnya akan terus memperjuangkan kepentingan rakyat dan bangsa. Penunjukan kader terbaik untuk mewakili rakyat menjadi pemimpin atas negara ini pun harus dilakukan. Memang kekuasaan yang diinginkan, namun bukan kekuasaan atas partainya saja, juga kekuasaan penuh rakyat.

Pemberian mandat kepada sang anak masih merupakan setengah langkah. Setengah langkah lagi yang diperlukan adalah menunjukkan bahwa kebangkitan ini juga didukung oleh kapasitas besar yang telah lama disiapkan. Bukan hanya satu anak ini saja yang akan berlari namun juga akan didukung dengan anak-anaknya yang lain, yang siap berlari untuk memberikan perubahan bagi negeri dan bangsa ini hingga seluruh rakyat dapat tegak berdiri menyongsong sang fajar penuh harapan.


...bahwa terus mendengar suara paling senyap sekalipun.
...bahwa terus membuka mata untuk melihat derita rakyat dan berjuang untuk rakyat.
...bahwa terus mengasah nurani dan akal sehat untuk menemukan jalan keluar dari permasalahan yang timbul.
...bahwa mendengar, melihat, peduli, dan tetap berada di setiap detak kegalauan rakyat.
(Megawati Soekarno Putri)

Senin, 16 Desember 2013

Sang Suara

Bukan kali ini saja aku merasa seperti ini. Perasaan ketika aku membaca tulisanmu, aku seperti seorang yang sedang diperhatikan dari belakang. Entah siapa itu, tapi kuharap itu adalah kamu...

--
Kudengar samar-samar sebuah nama kusebut. Ya, terlalu samar-samar, bahkan oleh telingaku sendiri. Aku tak terlalu yakin apakah mulutku mengucapkannya dengan benar atau tidak. Suara yang seperti tertahan itu seperti suara yang keluar akibat leher tercengkeram kuat. Sedikit melirik, kupastikan bahwa leherku baik-baik saja. Kali ini aku terhenyak bahwa suara yang keluar dari mulutku ini adalah akibat dari ketidakpercayaanku.

Terkadang, secara sengaja, aku menguji Suara itu. Suara yang selalu datang ketika aku memejamkan mata. Entah mengapa belakangan ini Suara itu terdengar semakin sering dan semakin keras di hatiku. Bukan sembarang aku menulis mendengar di hati. Meski seringkali aku mendengarnya melalui telingaku, suatu saat aku ingin tahu apakah Suara itu benar-benar kudengar. Saat kupejamkan mata, aku mulai merasakan bahwa telingaku seperti tak berada pada posisi yang benar karena aku mendengar Suara seperti berasal dari bawah kepala, seperti dari dalam jantungku. Makin kuat kupejamkan mata, makin kuat suara itu terdengar olehku. Suara itu makin kuat hingga membuat tubuhku bergetar. Aku tak sanggup...

Lain waktu aku mencoba untuk menguji apakah benar suara itu berasal dari hati. Kali ini aku tak pejamkan mata, namun aku sedikit bertaruh atasnya. Aku mencoba membuang undi untuk mengetahui apakah suara itu membawaku ke arah yang benar atau sebaliknya. Sesaat aku ragu tapi tetap saja rasa penasaran dan pemikiran logis ku mencoba mengalihkannya. Keputusan yang keluar dari hasil undi itu memang berkata kebalikan dari Suara yang kudengar. Akupun memilih untuk mengikutinya dan kau tahu apa yang kemudian terjadi? Hariku saat itu menjadi hancur. Kau takkan tahu rasanya bagaimana hancurnya rencana yang kau susun untuk suatu jadwal yang tak boleh bergeser dan berakhir dengan berantakan semuanya. Ya, aku merasakan kekecewaan sangat mendalam saat itu. Seandainya aku mengikuti Suara yang kudengar tentu tak begini hasilnya. Matahari telah lama tenggelam ketika aku berhadapan di tempat aku mengujinya, kali itu aku menyerah dan mengakui kesalahanku. Dan kudengar kembali suara itu, "Kau bukan menguji, namun mencobai. Janganlah membuang undi atas aku, Suara itu."

--
Ketidaktahuanku, yang berlanjut kepada rasa penasaran dan pertanyaan-pertanyaan di otakku, telah mendapat jawaban kali ini. Jawaban yang menjawab pertanyaanku sekaligus menimbulkan pertanyaan dan rasa ingin tahu yang lebih besar lagi. Kurasa aku tahu bahwa konsekuensi dan jawaban apapun harus kuterima atas segala pertanyaanku. Aku tak bisa membuat jawaban itu harus sesuai dengan keinginanku. Ya, aku terlampau kecil untuk mengerti Sang Suara dalam waktu yang singkat.

Terima kasih untuk kamu yang telah memberikan jawaban kepadaku kali ini. Kurasa jawaban itu bukan hanya untuk ku namun juga untuk mu. Aku merasa kita berdua sedang menghadapi pertanyaan besar yang akan terus semakin membesar seiring dengan jawaban yang kita terima. Pertanyaan itu seperti menyiratkan bahwa kita sedang dalam jalan yang benar. Semoga...

kuharap itu adalah kamu dan Sang Suara...

Sabtu, 14 Desember 2013

Kebenaran dalam Segelas Bir

Kali ini bukan aku saja yang sedikit melihat dunia dengan sedikit berbayang, kawanku W juga sepertinya sudah memasuki dunia yang sama denganku. Memang benar dia yang mengajakku ke tempat ini dan dia pula yang lebih berpengalaman dibandingkan aku. Namun kali ini pengaruh atas kami sepertinya sudah melebih keseriusan kami ketika datang, senyuman sudah banyak menghiasi wajah kami. Tak lupa senyuman pelayan yang sangat hangat mengantar kami menyelesaikan banyak topik perbincangan..

Bagiku, bukan hal sulit untuk merasakan keramaian dan kegembiraan, bukan juga hal yang sulit untuk merasakan kesendirian. Namun kebersamaan itu sulit datang diantara keduanya ketika aku sedikit menolaknya. Hanya sedikit saja, padahal.

Dua gelas bir membawa kenikmatan tersendiri bagi kami. Dapat menikmati bir di kerajaan bir memang hal yang sangat istimewa. Disini bir bukanlah hal yang tabu, seperti layaknya di tempatku berasal. Bukan hanya karena bir disini lebih nikmat dibandingkan disana (cola saja lebih nikmat disini, beberapa orang bilang karena di tempatku berasal harganya harus disesuaikan sehingga bahannya pun sedikit berbeda), namun terlebih karena orang-orang disini sudah menikmatinya untuk konsumsi sehari-hari dan tidak ada kelakuan yang aneh-aneh akibat mengkonsumsi minuman segar ini sehingga tidak ada pula stigma negatif terhadap minuman ini. Terlebih karena harganya yang sangat murah.

Kau tahu, bukannya aku ingin berada di tempat ini untuk menikmati segelas bir saja, aku rasa kali ini aku hanya menikmati sedikit keinginanku tanpa meninggalkan tanggung jawabku. Artinya, sepertinya di tempat ini aku diberi kebebasan yang bertanggung jawab atas kelakuanku. Aku bisa menikmati apa yang tidak terlarang bagiku dan yang menjadi hiburan bagiku, terlebih karena aku bisa mengendalikan hingga diposisi mana aku boleh merasakannya. Suatu anugerah tersendiri ketika kita bisa memperolah kebebasan seperti itu, kebebasan yang bertanggung jawab.

Di dalam diriku pun aku sangat percaya bahwa apa yang kudapat hingga saat ini pun bukan hanya karena kebebasan memilih yang diberikan kepadaku (beserta konsekuensinya), namun juga karena dorongan Semesta yang selalu diberikan padaku. Entah bagaikmanapun bentuknya tapi aku merasakannya dan mengetahuinya bahwa itulah yang menjadi dasar bagiku untuk selalu terus melangkah. Tiap kali ada orang yang tidak percaya kata hati, dia takkan percaya pada keberadaan Semesta. Karena bagi dia, kata hati merupakan bentuk lain dari dalam hati kita. Sementara aku selalu percaya bahwa tiap kita selalu ada yang mengendalikan, yang bersuara melalui hati kita masing-masing. Jadi ketika ada saat dimana aku merasa terlalu ramai atau sepi di dunia ini, aku tahu kemana aku harus melangkah. Langkah yang selalu berasal dari hati. Dan hingga kini tak pernah salah. Karena salah merupakan kata yang menghapuskan kata benar..

Tidak seperti bir yang mendapatkan stigma baik dan buruk dalam lingkungan yang berbeda (meski kita tahu konsekuensi dari hal tersebut), kata hati merupakan persoalan benar dan salah. Kurasa saat ini pun kau takkan tahu apa yang kumaksud, karena bukanlah perkataanku yang dapat membuatmu mengerti namun kata hatimu sendiri lah yang akan membuatmu mengerti hingga pada saatnya kau akan memahami apa yang kumaksud kali ini... Semoga

Selasa, 03 Desember 2013

Didalam Dua Dunia

Baru beberapa menit yang lalu aku mengalami sesuatu yang mengherankan. Secara tiba-tiba ketika aku berjalan di lorong depan kamarku, aku seperti terhisap secara cepat ke mesin waktu. Gambaran cepat begitu nyata akan apa yang kulakukan hari ini. Diantara dua dunia.

Tergambar jelas tadi pagi ketika aku pindah-pindah bis dan kereta untuk menuju suatu tempat pada pagi buta. Bagaimana aku menunggu bis dalam kedinginan suhu dibawah nol derajat celcius. Bagaimana aku menaiki hingga pemberhentian selanjutnya dan berganti kereta bawah tanah. Hingga bagaimana aku berjalan kaki menyusuri jalan-jalan yang licin sisa dari pertarungan air dan udara. Entah bagaimana semuanya tergambar secara cepat dalam hitungan detik. Dan tiba-tiba aku serasa tak tahu ada dimana...

Aku sadar saat ini sudah kembali berjalan di lorong. Dan beberapa langkah kemudian..

Aku kembali terhisap dalam beberapa minggu yang lalu, saat aku menaiki pesawat untuk menjelajah ke negeri yang aku sendiri tak tahu bagaimana bentuknya. Untuk kemudian menunggu dan berganti dengan pesawat yang lainnya. Lama sekali kurasa perjalanan setengah dunia ku kali ini. Perjalanan yang saat itu tak sanggup kubayangkan. Ini bukan perjalanan ke daerah-daerah, seperti yang biasa kulakukan sendirian. Saat itu aku percaya bahwa perjalanan panjang itu akan membawa perubahan besar bagiku. Ya, percaya...

Kembali gambaran perjalananku itu tergambar jelas dalam sekian detik dan membawaku lupa akan dimana aku berpijak sesaat. Sepersekian detik aku menjadi linglung dan tak tahu dimana aku berada.

Dalam beberapa langkah aku masih 'terhilang' dalam pencabutan roh-ku. Ya, kali ini aku seperti tercabut roh dari badanku. Aku merasakannya.

Sesaat sebelum kubuka pintu kamarku, aku tersadar dan kembali teringat dimana aku berada saat ini. Keberadaanku yang telah jauh dari yang selama ini kualami. Meski selalu berada dalam mimpiku pada waktu lalu, namun kenyataan saat ini adalah buah dari mimpi masa lalu.

Aku kembali diingatkan bahwa keberadaanku saat ini bukan hanya milik-ku semata. Bukanlah badan yang diutus pergi namun roh-ku, yang terus percaya bahwa tiap mimpi pasti akan terwujud, juga turut beserta denganku. Bukan hanya usaha yang kuperlu, namun juga harapan. Dua dunia yang terus membayangiku. Namun kurasa, kali ini aku hidup bukan diantara dua dunia lagi tetapi aku seperti berada didalam dua dunia itu.

Jangankan perjalanan mengelilingi dunia, tiap langkahku pun telah diatur. Kupercaya..